Tampilkan postingan dengan label Petualangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Petualangan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Juni 2014

Mendaki Gunung : Keep Calm and Stay "Mbois"

Menuruni  tebing di G. Raung
Banyak teman-teman saya yang sering menayakan "Kenapa sih kamu mendaki gunung"? Sepertinya pertanyaan seperti ini juga seringkali diutarakan oleh banyak orang terhadap para pendaki lain. Pertanyaaan yang logis memang, karena jika dipikir-pikir dengan akal sehat kegiatan mendaki gunung atau olah raga alam bebas lainnya memang membutuhkan banyak pengorbanan. Dari mulai pengorbanan uang, tenaga, waktu hingga pacar (yang udah punya tentunya....). Wah berarti saya tidak punya akal sehat dong kalau begitu. Sepertinya banyak orang yang ingin mengetahui alasan kenapa orang mendaki gunung. Apakah segala sesuatu harus disertai dengan alasan. Orang yang sedang pacaran jika ditanya kenapa mencintai pacarnya, saya berani bersumpah "potong leherku"(cing) pasti tidak bisa memberikan alasan yang logis. Kalau ia menjawab karena cantik atau ganteng, wah ini "bulshit" banget. Ntar pas jalan lihat yang lebih cakep juga pasti "meleng" matanya.

Kembali ke pertanyaan diatas, apakah segala sesuatu membutuhkan alasan. Mencintai adalah persoalan perasaan dan sepertinya ini tidak butuh alasan. Jika pun harus memberikan alasan, banyak pernyataan "pembenaran" dari para pioneer atau tokoh jaman dahulu yang biasanya dijadikan alasan. Seperti George Mallory, misalnya yang menyatakan "because is there", terkait alasannya kenapa naik gunung. 

Atau seperti ungkapan Soe Hok Gie yang mengatakan “Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Bapak Pandu Dunia, Henry Dunant juga mengantakan, "Tidak akan hilang pemimpin suatu bangsa bila pemudanya masih ada yang suka masuk hutan, berpetualang di alam bebas dan mendaki gunung. Nampaknya hal tersebut sangat beliau mengerti, bahwa berkegiatan di alam terbuka akan membentuk pribadi yang menghargai hidup".

Banyak juga alasan lainnya yang ngetrend diungkapkan, seperti  "Cinta di tolak, keril diangkat". Ada lagi, "PDKT gagal, mari bangun tenda dan makan bekal" atau alasan yang standar seperti "karena hobi", "karena ngangenin" dan masih banyak lagi alasan lainnya.

Berbicara alasan mendaki gunung tak lepas dari sejarah, pendakian gunung bukan hal yang baru. Di Eropa tercatat sejarah pendakian sudah dimulai sejak tahun 1492 yang dilakukan oleh Sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Ville mencoba untuk memanjat tebing Mont Aiguille (2.097 m), di kawasan Vercors Massif.Hingga kemudian banyak tokoh-tokoh yang terkenal seperti, 

Dr. Michel Gabriel Paccard dan seorang pemandu gunung, Jacquet Balmat yang berhasi menggapai puncak Mont Blanc (4807).

AF Mummery, pendaki Inggris yang mendaki  Nanga Parbat (8.125 m) yang sering disebut Bapak Pendakian Gunung Modern.

George Mallory, yang mendaki puncak everest (8.400 m) tanpa tabung oksigen. Tokoh ini biasanya yang sering dideritakan dan mejadi ukuran kebanggan paran pendaki.

Ada juga Dr. Karl Prusik memelopori penggunaan tali kecil dengan simpul khusus untuk menggantung dan meniti tali yang lebih besar. Sampai sekarang tali kecil dan simpul ini dikenal dengan istilah prusik. Meniti tali dengan menggunakan tali kecil dan simpul ini disebut prusiking.

Masih banyak lagi tokoh-tokoh yang melegenda namun yang paling saya suka adalah WA Coolidge yang dijuluki Mr. Winter Climbing dengan prinsipnya mendaki tanpa pemandu, yang kemudian menjadi trend sampai sekarang. Mendaki tanpa pemandu dirasa lebih membanggakan dan memiliki tantangan yang lebih.

Ekplorasi pendakian gunung-gunung di indonesia sendiri sudah dilakukan sejak tahun 1800-an. Tokoh yang sudah tidak asing lagi yaitu Frans Wilhem Junghun. Ahli botani, naturalis, doktor, dan alpinsim ini banyak melakukan pendataan hutan di gunung-gunung wilayah Jawa. Saya kira, jasanya dalam perkembangan pendakian gunung di indonesia tidak perlu diragukan lagi. 

Pada tahun 1899 Ekspedisi Belanda pembuat peta di Irian menemukan kebenaran laporan Yan Carstensz (1623). Navigator dari Belanda yang pertama mengabarkan ke daratan Eropa tentang adanya puncak es dinegara tropis di garis equator Barat Papua Nugini. Maka namanya diabadikan sebagai nama puncak yang kemudian ternyata merupakan puncak gunung tertinggi di Indonesia. Hingga kemudian muncul ekspedisi-ekspedisi untuk melakukan pendakian Cartenz Pyramid. Pada ekspedisi ini ada salah satu ahli geologi yang menemukan deposit tembaga di Gunung Grasberg. Di Grasber inilah kemudian penambangan emas dilakukan oleh Freeport.

Pendakian Gunung di Indonesia semakin berkembang seiring dengan bermunculannya Organisasi Pecinta alam (OPA). Soe Hok Gie dan Norman Edwin sepertinya nama-nama ini sudah tidak asing di telinga kita.

Berbicara mengenai sejarah sepertinya akan panjang dan saya tentunya tiidak akan mengupas tuntas itu. Namun dari sejarah-sejarah tersebut setidak dapat  tergambar apa yang menjadi alasan untuk mendaki gunung. 

Perkembangan teknologi dan komunikasi tentunya semakin mempermudah aktivitas pendakian gunung. Jaman dahulu selain membutuhkan fisik yang kuat, seorang pendaki  gunung harus memahami peta, kompas dan tanda-tanda alam. Karena membutuhkan fisik yang kuat, mendakai gunung sering disebut sebagai kegiatan "mbois" plesetan kata "boys" yang berarti keren, kecowokan, cool, kece. Apalagi kalau misalkan naik gunung sampai puncak dan membawakan bunga edelweis untuk cewek-cewek. Bisa bling-bling deh tuh cewek. 

Seiring dengan teknologi yang semakin berkembang, pendakian gunung dan olahraga alam bebas lainnya sepertinya mulai mengalami pergeseran. Mendaki gunung sudah menjadi olahraga publik. Tidak hanya didominasi oleh kaum laki saja, sekarang perempuan bahkan anak-anak sudah banyak menekuni aktivitas ini. Gaya-gaya "mbois" sepatu boot, gelang prusik, dan style gunung lainnya tetap menjadi favorit tak kalah dengan gaya boysband atau K-pop. Perlengkapan adventure semakin mudah didapat dan informasi - informasi seputar jalur atau medan pendakian juga semakin banyak. Naik Gunung tidak lagi untuk menunjukan bahwa saya hebat, kuat, menjadi yang pertama. Saya naik gunung agar tetap "mbois". So, keep calm and stay "mboys"......



Selasa, 30 April 2013

Meretas Jalan Panjang di Blora


Segelas white coffe masih menyisakan beberapa tegukan. Sendiri dalam ruangan berukuran 4x5 meter membawa kenangan saya beberapa tahun lalu di Tanah Blora. Sebuah Kebupaten Miskin di Jawa yang memiliki kekayaan alam luar biasa. Kabupaten yang 65 % wilayahnya merupakan hutan Jati ini merupakan penghasil minyak bumi cukup besar yang dikenal sebagai Blok Cepu yang saat ini dikuasai oleh Epson Mobile. Namun ironisnya masyarakat Blora hanya sedikit menikmati hasil kekayaan alamnya. Masyarakat Blora juga terkenal dengan Ajran Samin, sebuah ajaran kebatinan yang mengenai budi pekerti manusia. Ajaran ini terkenal dengan konsep Kawulo Manunggaling Gusti Sangkan paraning Dumadi. Konsep ini mirip dengan ajaran Syekh Siti Jenar yang juga mengajarkan mengenai Kawulo Manunggaling Gusti. Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah bersatu dengan Tuhannya. Dalam ajarannya pula, Manunggaling Kawula Gusti bermakna bahwa di dalam diri manusia terdapat roh yang berasal darirohTuhan. Ajaran samin diajarkan oleh Samin Surosentiko, lahir pada 1859 dengan nama Raden Kohar di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung Kabupaten Blora. Raden Kohar mengubah namanya menjadi Samin Surosentiko sebab Samin adalah sebuah nama yang memiliki konotasi wong cilik. Gerakan Samin pada waktu itu kental dengan perlawanan mealawan Belanda. Gerakan samin yang terus berkembang dan bertambah banya pengikutnya menolak untuk membayar pajak. Gerakan perlawanan kekerasan ini membuat belanda resah dan akhirnya melalui Raden Pranolo, asisten wedana Randublatung, Samin Surosentiko ditangkap dan dibuang keluar Jawa hingga wafat pada tahun 1914. Namun, walalupun begitu gerakan samin masih tetap berkembang hingga saat ini. Hal itulah kemudian yang menjadi ketertarikanku ketika mendengar Blora. Ketika sudah menginjakan kaki di Blora maka tujuanku pertama kali adalah menggali informasi mengenai ajaran samin secara langsung.
Bangunan unik masyarakat samin, terbuat dari daun jati

Untuk menuju ke Blora, biasanya ada dua rute yang biasanya digunakan, pertama melalui arah solo dan kedua melalui arah semarang. Dari arah semarang perjalanan dapat dilanjutkan menggunakan kereta api yang menuju arah Surabaya. Ada dua jenis kereta yang dapat  kita gunakan yaitu kereta api Kertajaya jurusan Jakarta Surabaya atau Blora Jaya Ekspres jurusan Semarang Bojonegoro/Cepu. Blora Jaya ekspres dapat menjadi pilihan yang tepat karena sealin lebih cepat kereta api ini nampaknya memang diperuntukan bagi para pekerja yang mencari nafkah diwilyah Cepu dan Bojonegoro. Industrialisasi terutama minyak memang menyerap banyak tenaga kerja di wilayah tersebut. Tiket Blora Jaya Ekspres dijual dengan harga Rp 28.000, tanpa tempat duduk, alias berebutan tempat duduk. Dari arah Semarang ada dua pemberangkatan yaitu pada jam 09.00 dan jam 17.00 WIB. Setiap akhir pekan, kereta ini akan penuh sesak dengan para buruh yang hendak pulang kekampung halamannya. Jika akan menuju Blora, maka kereta api tidak melewati kotanya, melainkan lewat Blora bagian Selatan. Dulu kereta api masih melewati kota, namun entah sejak tahun berapa rel kereta api disana tidak dipakai lagi, bahkan hingga sekarang masih ada bekaas stasiun yang kini dipakai sebagai terminal sementara atau tempat transit bus.
Saat pertama kali menuju kesana, saya berniat naik kereta api ini. Namun sialnya saya  baru sampai di stasiun Tawang Semarang pukul 09.30 WIB. Terpaksa saya menunggu kereta berikutnya pada pukul lima sore. Mumpung berada di Semarang, saya tak mau menyia-nyiakan waktuku begitu saja. Aku mengontak beberapa temanku untuk memberikan referensi tempat-tempat menarik yang dapat aku kunjungi. Ada beberapa tempat yang menjadi pilihan, Simpang Lima, Lawang Sewu, Tugu Muda dan Gereja Blendug.  Akhirnya pilihan  jatuh ke Simpang Lima. Seringkali saya menonton di Televisi mengenai keramaian Simpang Lima yang membuat saya  penasaran untuk melihat secara langsung tempat ini. Untuk menghindari nyasar, saya memilih menggunakan becak untuk mengantar kesana dengan ongkos sepuluh ribu rupiah. Sesampai di Simpang lima, ada banyak pilihan temapat untuk dikunjungi, dari Gramedia sampai Citraland mall, Robinsondan Matahari. Kesemuanya tempat-tempat yang mengharuskan menguras isi kantong. Sayangnya para penjual kaki lima yang dulunya ramai berdagang disini kini sudah dipindahkan ke kawasan Tugu Muda. Menjelang sore cukup sudah aku menikmati kota Semarang ini yang ternyata sangat panas, padahal banyak wilayah yang berupa perbukitan yang memang sudah beralih fungsi menjadi pemukiman super padat.
Suasana didalam kereta Blora Jaya Ekspres
Sesampai kembali di Stasiun Tawang dang mengantongi tiket menuju Blora saya bergegas untuk masuk kedalam dan menunggu kereta. Dan karena hari itu akhir pekan, nampaknya kereta ini akan sesak dipenuhi penumpang. Dan memang akhirnya saya harus berebutan tempat duduk, namun syukurnya saya bisa mendapat tempat duduk yang disediakan dengan model seat 2-2 dan disediakan juga tempat untuk bergantungan tangan disepanjang bagian tengahnya. Stasiun yang menjadi tujuanku adalah Stasiun Randublatung, satu stasiun sebelum stasiun terakhir yaitu Cepu. Perjalanan menuju Randublatung memakan waktu sekitar tiga setengan jam, dan saya baru sampai disana pukul setengah Sembilan malam. Tentunya sudah terlalu malam untuk melanjutkan perjalanan, mengingat lokasi tujuanku Desa Ttlogotuwung masih harus ditempuh sekitar satu jam perjalanan lagi melewati kawasan hutan jati. Akhirnya ssaya putuskan untuk bermalan di stasiun dan melanjutkan perjalanan pada esok harinya. Beruntung ada seorang tukang ojek yang menawarkan untuk bermalam di sebuah masjid di depan rumahnya, dan kekesokan harinya dia bersedia untuk mengantarkanku ke Desa Tlogotuwung. Karena tidak ada pilihan lain yang lebih baik lagi akhirnya saya menerima tawarannya.
Jalan menuju desa, dengan waktu tempuh 1-2 jam perjalanan
Selain ojek, transportasi lain yang dapat digunakan adalah mobil bak terbuka yang biasanya membawa sapi namun jarang sekali lewat. Ongkos ojek menuju ke desa cukup mahal Rp 40.000,- bagi masyarkat yang tidak mempunyai kendaraan bermotor sendiri tentunya kan sangat merepotkan. Untungnya jasa perkreditan sepeda motor yang sebenarnya mencekik leher bias diakses dengan mudah. Setidaknya itu menjadi pilihan yang tepat, mempermudah mobilitas masyarakat. Sepanjang perjalanan, mata akan disuguhi oleh pemandangan hamparan hutan jati yang sangat luas. Namun sayangnya wilayah ini juga menjadi korban penjarahan besar-besaran paska reformasi. Sejumlah hutan di jawa terut menjadi korban korban termasuk di wilayah blora ini. Harapan untuk melihat hutan jati yang besar dan rimbun pupus sudah. Sepanjang perjalanan hanya ada pohon jati yang baru berusia 4 s/d 5 tahun. Sengatan panas metahari menjadi sangant terasa di wilayah ini, belum lagi debu yang berterbangan ditiup angin. Beberapa pohon jati yang besar masih sempat ditemui. Kebanyakan pohon-pohon tersebut tumbuh ditempat yang disakralkan seperti kuburan, orang tidak berani menjarah di tempat-tempat seperti ini. Mungkin seharusnya hutan disakralkan saja dan dibumbui mitos-mitos menakutkan sehingga orang tidak berani untuk merusak hutan. Sebenarnya di tradisi jawa sudah berkembang istilah "jangan masuk kehutan, wingit". Hal tersebut dimaksudkan agar hutan tetap terjaga lestari, namun karena nilai-nilai tersebut sudah luntur sepertinya usaha dan kesadaran yang besar untuk memperbaiki tatanan budaya kita menjaga lingkungan. 
Masyarakat menjemur jerami untuk makanan sapi
Memasuki wilayah perkampungan, akan melewati persimpangan, jika belok kiri dari arah Randublatung akan menuju Desa Tlogotuwung, Jika belok kanan akan menuju Desa Getas, dimana di Getas ini ada Kampus Lapangan Fakultas Kehutanan milik UGM. Jika mengambil jalan lurus maka akan mengantar kita ke Banjarejo, Ngawi, yang merupakan akses lain jika akan menuju Blora dari arah Selatan. Ojek yang saya naiki terus melaju ke arah Desa Tlogotuwung. Dari persimpangan ini jaraknya masih sekitar 5 km. Akhirnya saya memasuki gapura Desa Tlogotuwung, nampak rumah-rumah kayu khas jawa tertata rapi sepanjang jalan desa. Halaman luas dengan tumpukan jerami untuk makanan sapi. Saya langsung menuju rumah kepala desa, dari situ kemudian saya diantarkan menuju rumah Mbah Ngalim. Di rumah inilah saya akan tinggal. Seperti rumah - rumah lainnya rumah mba Ngalim terbuat dari kayu jati tua yang dirawat dengan bagus sehingga terlihat bagus dan enak dipandang mata. Saya dikejutkan, ketika mengunjungi beberapa rumah disini. Lazimnya, binatang peliharaan seperti ditempatkan di kandang tersendiri. Namun hal itu tidak untuk disini. Sapi-sapi peliharaan mereka ditempatkan jadi satu dengan rumah. Tidak hanya bau tentunya, hal itu juga tidak baik untuk kesehatan.
Mencangkul menjadi pekerjaan yang biasa bagi perempuan di Blora
Secara history, perkampungan disini awalnya adalah para blandong atau penebang kayu saat Belanda masih menguasai Indonesia dan akhirnya menetap dan beranak pinak. Perjalananku kemudian di tanah Blora ini banyak terlibat denga perempuan-perempuan desa. Setiapharinya, setelah menyelesaiakn pekerjaan rumah tangganya, perempuan-perempuan ini kemusian pergi ke ladang sekedar untuk membantu suami atau mencari kayu bakar. Tak sedikit dari mereka juga melakukan aktivitas yang lazimnya dilakukan laki-laki seperti mencangkul atau memotong kayu. Bu Suntini, ibu dengan seorang anak ini setiap harinya mengambil air yang lokasinya cukup jauh. Bagi Bu Suntini itu adalaj pekerjaaan yang sudah biasa dilakukan. Tak hanya mengurusi rumah tangga, Bu Suntini juga kadang harus iktu menopang ekonomi rumah tangga. Penghasilan suaminya yang bekerja sebagai petani seringkali tidak cukup utnuk mencukupi kebutuhan harian. Bersama dengan teman-temannya yang lain,Bu suntini mencoba membuat kue dan beberapa jenis makanan lainnya. Namun sayangnya akses transportasi yang susah, membuat Bu Suntini dan tetangga-tetangganya yang lain kesulitan untuk memasarkan dagangannya. Selain bergelut dengan aktivitas rumah tangganya, Bu Suntini juga memperjuangankan agar Desa memperhatikan hak-hak perempuan di desanya. Dia ingin agar pendapat perempuan juga didengarkan dan diakuai oleh masyarakat.Tak sedikit masyarakat yang memandang sebelah mata usahanya ini, karena memanga perempua desa biasanya selalu identik dengan sumur, kasur dan dapur. Blora tak hanya mengajarkan saya bagaimana perempuan miskin desa begitu tertinggal secara pendidikan dan kontrol sosial. Disini saya belajar, bahwa dibalik tubhnya yang lemah, perempuan memiliki kekuatan yang luar biasa.


Senin, 22 April 2013

Seri Menggapai Atap Andalas : Terjalnya Gunung Dempo

Puncak Dempo
Tercapai sudah anganku untuk menginjakan kaki di puncak tertinggi Sumatra, puncak Kerinci. Sepertinya saya merasa tidak pernah cukup, besar hasrat saya untuk mencicipi setiap inci tanah Sumatra ini. Target selanjutnya adalah mendaki Gunung Dempo di Sumatra Selatan. Dari sebuah grup di facebook kebetulan ada seseorang yang memposting ajakan untuk mendaki Dempo,kebetulan sekali sepertinya. Setelah berkordinasi mengenai teknis pemeberangkatan, saya kemudian memesan travel jurusan Palembang. Tak banyak referensi travel yang saya peroleh dari internet. Pilihan akhinya jatuh di travel ceria, dengan promonya yang menawarkan pelayanan yang ramah dan ekslusif. Jadi tak ada salahnya saya mencoba. Sekitar pukul tujuh malam, travel menjemput saya. Sebuah Inova hitam dengan hanya lima orang penumpang. Cukup nyaman memang , namun ini juga sebanding dengan kocek yang harus saya keluarkan, Rp110.000,- untuk sekali perjalanan ke Palembang.
Dini hari, travel sudah memasuki kota palembang. Saya sendiri tak tau tujuan yang hendak saya tuju. Setelah menghubungi seorang teman yang yang akan menjemput. Saya disarankan untuk turun di loket ltravel saja dan menunggu disana hingga pagi sampai jemputan datang. Sepertinya ini pilihan yang paling tepat, mengingat ini pertama kalinya saya datang ke Kota Palembang. Setelah mengantar penumpang terakhir, akhirnya sampai juga di loket.  Lega rasanya bisa  meluruskan punggung, walaupun hanya di atas kursi. hari sudah beranjak siang, cukup lama saya menunggu, namun belum ada tanda-tanda teman saya akan menjemput. Suasana sekitar loket mulai ramai dan saya sendiri sudah mulai merasa tak enak. Untungnya tak lama kemudian jemputan yang sya nantikan datang, "Dio" demikian dia memperkenalkan diri. Sambil berbincang mengakrabkan diri saya diantar ke halte Bus jurusan Universitas Sriwijaya di  Inderalaya, Ogan Ilir. Sementara Dio sendiri akan menyusul di siang harinya kerena masih ada beberapa urusan. Jembatan Ampera di atas sungai Musi menjadi pemandangan menarik saya yang pertama di Kota Palembang ini. Nampak di bawah ramai orang berlalu lalang dan berjulan seperti pasar apung menggunakan perahu. Sayangnya saya tidak sempat mengabadikan moment-moment tersebut.
Untuk menuju ke Universitas Sriwijaya, saya masih harus menempuh sekitar satu jam perjalanan karena memang letaknya berada di luar kota Palembang. Di sana sudah ada seorang teman lagi yang akan menjemput saya. sesuai dengan arahan Dio, Saya nanti turun di timbangan setelah itu ada seorang kawan yaitu Soleh yang akan menjemput. Setiba di Timbangan, saya kemudian menghubungi Soleh. Tak lama Soleh pun datang dan mengantar saya untuk bergabung bersama rekan-rekan yang lain.

Menjelang siang kami sudah berkumpul dan mulai mempacking segala keperluan yang kami butuhkan diperjalanan nanti. Kampus Unsri menjadi titik start perjalanan kami menuju Kota Pagar Alam, tepat di kaki bukit Gunung Dempo. Bus Melati berukuran sedang akan menjadi kendaraan yang membawa kami menuju Kota Pagar Alam yang akan  ditempuh selama kurang lebih 7 jam perjalanan. Sesuai dengan ongkosnya yaitu Rp 30.000.- kami harus berdesak-desakan dan kpanansan di dalam Bus. Sebenarnya ada pilihan lain yang lebih nyaman yaitu menggunakan travel telaga biru dengan ongkos Rp 70.000,-
Tengah malam kami sudah memasuki Pagar Alam. Jalanan semakin terjal dan berliku-liku, udara juga semakin terasa dingin. Karena berombongan Bus mau mengantar kami menuju Pabrik PTPN III yang lokasinya masih berjarak sekitar 15 km dari terminal Pagar Alam. Sesuai dengan namanya pagar alam memang dikelilingi oleh perbukitan dengan hamparan kebun teh yang cukup luas. Dari Pabrik PTPN III tepatnya di samping masjid, kami langsung menuju tempat Pak Anton. Rumah Pak Anton memang menjadi persinggahan para pendaki dimana dibelakang rumahnya memang dibangun pondok yang dapat digunakan untukbermalam dengan cuma-cuma.Pan anton sendiri merupakan seorang yang dituakan seantero Sumsel dan Lampung oleh kalangan pecinta alam. Untuk melanjutkan pendakian, kami harus menuju kampung IV yang merupakan kampung terakhir di kaki Gunung Dempo ini. Untuk menuju kampung IV masih membutuhkan waktu satu jamperjalanan lagi yang bisaditempuh menggunakan Truk yang beroperasi tiap pagidan sore untuk kembali. Namun jika ingin mencarter kendaraan, kitabisa minta tolong Pak anton untuk mencarikan kendaraan dengan biaya Rp 10.000 s/d 20.000 tergantung jumlah orang yang naik. 

Waktu masih menunjukan pukul 07.00 WIB kami sudah siap dengan ransel kami masing-masing. menggunakan truk yang dipesankan oleh Pak Anton kami melanjutkan perjalanan ke kapung IV. Perjalanan menuju kesana sungguh mendebarkan jalan-jalan berkelok dengan tikungan yang cukup tajam serta jalan berbatu menjadi suguhan selama perjalanan. Tak jarang kami salaing berbenturan karenan guncangan truk yang cukup keras. Namun pemandangan hamparen kebun teh yang hijau sejauh mata memandang menjadi pengganti yang setimpal. Sementara di depan kami nampak  jelas Gunung Dempo dengan puncaknya yang sedikit terselimuti oleh awan.
Setiba di kampung IV kami langsung menuju ke sebuah warung yang memang sering menjadi persinggahan pendaki sebelum atau sesudah mendaki Dempo. Di warung ini saya melengkapai sejumlah logistik yang memang belum sempat terbeli kemarin. Dari sini kemi meneruskan pendakian menuju shelter peristirahatan yang letaknya tidak terlalu jauh hanya  sekitar lima menit dari kampung IV. Menuju ke shelter ini kami melintasi sebuah sungai yang cukup besar dengan aliran yang deras. Mengingat perut belum terisi makanan sejak pagi tadi, kami beristirahat dulu di shelter ini sambil menyiapkan makanan dan mengisi perbekalan air.
Perjalanan kami lanjutkan menuju kebun teh. Masih menyusuri jalan perkebunan yang masih relatiflandai akhirnya kami sampai dititik pendakian. Ada sebuah plang yang menunjukan titik pendakian gunung Dempo.  Dari sini Jalur mulai menanjak dan licin. Kiri kanan masih berupa kebun teh hingga kami kemudian sampai ke pintu rimba. Sesuai dengan namanya, daerah ini merupakan batas antara perkebunan dan hutan. Memasuki hutan, medan mulai cukup susah, tanah liat yang licin dengan jalur yang seperti rekahan karenan tekikis air hujan. Beberapa kali kaki saya terjepit dan terpeleset saat melewati jalur ini. Setelah jam perjalanan akhirnya kami sampai di Shelter 1. Dua bungkus snack dan minuman hangat kami siapkan untuk menambah tenaga. walaupun belum tengah hari namun perut saya sendiri sudah keroncongan. Setelah cukup beristirahat perjalanan kami lanjutkan kembali target kami adalah camp di Pelataran.

Jalur yang kami lalui semakin sulit, Selain Terjal banyak akar yang menjulur keluar karena tanahnya sudah terkikis oleh aliran air. Jika tak berhati-hati, kita bisa terjatuh tersandung akar. Tanjakan-tanjakan terjal dengan kemiringan hampir 90 derajat seringkali saya temuai dan untuk melewatinya saya menggunakan lutut saya sebagai tumpuan. Akar-akar yang menjulur juga bisa dimanfaatkan untuk pegangan. Kabut semkin tebal dan gerimis-gerimis kecil menyertai perjalanan kami. Hal ini cukup memepersulit karena tentusaja medan menjadi semakin licin. Setelah menempuh sekitar dua setengah jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Shelter II. Hujan pun turun semakin deras dan akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan camp di tempat ini. Untungnya di Gunung Dempo ini hampir setiap Pos terdapat mata air sehingga kami tak perlu khawatir akan kekurangan air minum.

Rencana kami untuk melanjutkan perjalanan ke puncak pagi-pagi buta tidak berjalan mulus. Akhirnya kami baru bisa melaknjutkan perjalanan sekitar pukul tujuh pagi. Karena jarak kepuncak yang tidak terlalu jauh lagi, kami meninggalkan barang-barang kami di shelter II ini. menuju ke puncak, medan yang kami lewati masih seperti sebelumnya. namun karena tidak membawa beban, kami bisa melewatinya dengan lebih mudah. Belum ada satu jam berjalan kami sudah memasuki medan batu cadas. Selain terjal, medan ini hampir semuanya dialiri oleh air. Ini membuat kami harus semakin berhati-hati dalammelangkah. Vegetasi juga sudah berubah, berupa tanaman perdu seperti kaliandra. Pertanda kami  sudah semakin mendekati puncak. Tak lama akhirnya akmi sampai dipuncak Dempo. Puncak ini bukan puncak utama, masih ada puncal lagi yang terlihat jelas dari sini yaitu puncak merapi dengan kawahnya yang katanya sangat indah. Untuk menuju ke puncak Merapi, kami harus turun ke Pelataran dan kemudian baru mendaki puncak Merapi. Di puncak Dempo ini ada beberapa tenda didirikan. Sepertinya sedang ditinggalkan pemiliknya mendaki puncak Merapi pagi tadi.
Puncak Merapi
Jalur turun menuju pelataran cukup terjal dan tidak begitu jauh dari puncak Dempo ini. Sesuai dengan namamnya pelatara ini berupa hamparan tanah datar yang cukup luas. terletak diantara puncak Dempo dan puncak Merapi. Pemandangan disini sangant indah, tentunya sangat menarik jika menghabiskan malam disini. Sayangnya kemarin kami tak berhasil mencapai tempat ini. Hari sudah beranjak siang saat kami sampai di pelataran, nampak sudah banyak para pendaki  lain yang sudah kembali turun. Tak ingin menghabiskan waktu, kami secepatnya melanjutkan perjalanan menuju puncak selanjutnya. Kabut tebal mulai naik. Kami berharap-harap cemas, karena pemandangan sumatra dari puncak dan kawah tentunya pasti akan terhalang. Rupanya kabut semakin tebal disertai rintik-rintik hujan dan udara yang semakin dingin. Akhirnya kami berhasil menginjakan kaki di puncak Merapi ini. Teriakan kegembiraan meluap dari beberapa kawan. Tak lupa mereka bersujud syukur dan berdoa. Senang rasanya menyaksikan semua itu. Walaupun tidak mendapatkan pemandangan yang diharapkan, bagi saya kebersamaan terasa lebih penting dari puncak itu sendiri. (leo)

Jumat, 05 April 2013

Be a traveler "This isn't about the destination but the journeys"


Tidak penting kemana tujuan kita, namun perjalanan itulah yang akan memberikan pengalaman menarik buat kita.  Perjalanan menuju tempat jauh dengan segala keterbatasan yang ada baik waktu dan uang sepertinya hanaya manjadi mimmpi saja bagai kebanyakan orang.  Kita hanya bisa mengagumi saja lewat foto-foto atau catatan perjalanan seseorang. Ada kalanya satu waktu kita mengambil  kesempatan untuk memulai perjalanan memnuju ke suatau tempat yang kita dambakan. Berusaha membuat setiap langkah yang kita lakukan berarti dan semenarik mungkin. Yang jelas Traveling bukan hanya milik mereka saja yang beruang banyak. Menjadi traveller adalah sebuah seni yang tentunya dibutuhkan kreativitas  dan keberanian tetunya. Ada beberapa prinsip  yang mungkin perlu kita terapkan bersama agar perjalanan ini menarik dan hemat tentunya :
  1. Tidak menggunakan biro wisata atau perjalanan
  2.  Naik transportasi kelas ekonomi
  3. Selalu siap untuk menginap dimana saja, Pom Bensin, Stasiun, Tenda Doome, Syukur ada yang punya kenalan yang bisa ditumpangi
  4. Jarak Kurang dari 5 km ditempuh dengan jalan kaki
  5. Tidak makan daging, yang penting perut kenyang
  6. Baju kering pakai (jangan bawa baju terlalu banyak)
  7. Jangan terlalu sering mengeluh, bakal sering telat makan, kepanasan, kadang kehujanan
  8. Sering-seringlah memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan di perjalanan dan jangan lupa untuk berbagi tempat duduk dan bersedia memberikan kursi kita untuk perempuan,anak-anak dan orang tua.
Bagi yang belum terbiasa agak terlihat menyiksa diri memang, namun  perlahan lahan pasti terbiasa dan akan menjadi keasyikan tersendiri.Selamat mencoba menjadi Traveller !!!

Seri Menggapai Atap Andalas : Kerinci, Atap Tertinggi Sumatra (Bag 3)



Sunrise terlihat dari shelter 3
Angin masih bertiup kencang, Terang cahaya bulan masih belum tergantikan sang surya. Hembusan angin yang menyeruak hingga masuk kedalam tenda menembus sleeping bag yang membungkus rapat tubuhku. Semalaman aku terjaga, rasa kantuk sepertinya sudah tersingkir jauh bersama tiupan angin. Dinginnya hembusan angin menggetarkan tubuh hingga tulang semmpat membuatku raguan untuk melanjutkan perjalanan sampai ke puncak. Untungnnya ada beberapa teman yang serta seorang pemandu yang sedang mmebawa seoarang turis asing perempuan yang juga hendak mencumbui atap tertinggi Sumatra ini. Aku sengaja menyisakan nasi tadi malam untuk pagi ini, dengan ditambah satu bungkus cornet sepertinya cukup untuk menjaga tubuhku tetap bertenaga. Beberapa potong roti, tali webbing dan jas hujan, serta kompor aku saipakan untuk perbekalan nanti.

Pukul empat pagi hari saya dan beberapa rombongan mulai menerobos gelap. Terang cahaya bintang dan sinar bulan masih nampak sayup sesekali hilang tertutup awan. Saya masih harus menuju shelter 3 dahulu sebelum memasuki jalur ke puncak yang sudah berupa bebatuan. Jalur yang ku lalui cukup terjal, seringkali juga saya harus melewati lorong-lorong yang sempit. untungnya ada banyak akar yang bisa menjadi pegangan dan tumpuan. Setelah menempuh sekitar setengh jam perjalanan akhirnya saya mencapai shelter 3. Tempat ini sangat terbuk, nampak ada beberapa teda yang didirikan disini. Dari kondisi tenda serta kain flysheet yang sudah tidak pada bentuknya sepertinya mereka pasti berjuang keras menghadapi tiupan angin.
Jalur menuju puncak Kerinci

Dari tempat ini puncak Kerinci terlihat jelas. Jalur untuk menggapai puncak berupa batuan dan pasir. Sebenarnya aku sudah tak asing lagi dengan jalur seperti  ini, hal yang biasa pada gunung-gunung berapi yang masih aktif. Saya dan beberapa rombongan lain terus menerobos hembusan angin yang  menggoyahkan kaki saya. Beberapa kali saya hampir terhempas keluar jalur semntara sebelah kanan kiri saya  berupa jurang yag curam. Jika saya tak sigap mungkin dasar jurang akan menjadi kuburan saya. Semakin naik keatas hembusan angin terasa semakin kuat, debu-debu pasir berterbangan menghantam mata. Sialnya saya tidak mengantisipasi hal seperti ini. jangankan untuk melangkah, membuka mata saja rasanya sulit sekali. Saya harus menunggu dala cerukan-cerukan berlindung dari angin, setelah cukup reda baru saya melangkahkan kaki saya. Cukup pelan memang namun ini jauh lebih baik daripada hanya diam menunggu.

Saya di puncak Kerinci
Akhirnya saya samapi juga di puncak tertinggi Pulau Sumatra ini. Sayangnya kabut tebal membatasi pandangan saya. Padaha jika cuaca cerah, kita bisa menyaksikan dananu gunnung 7 dan barisan pegunungan yang membentang di sisi barat. Agak sedikit mengecewakan memang namun bukan ini tujuan utama saya. Sebuah proses perjalanan, memanenjemen waktu dan persiapan mental menjadi pelajaran yang tak ternilaikan harganya. Saya tidak hanya sukses mendaki puncak gunung tertinggi tapi saya juga sukses mengelola diri saya atas waktu, kekhawatiran dan ketakutan. (leo) Melihat Kerinci, Atap Tertinggi Sumatra (Bag 2)

Minggu, 24 Maret 2013

Bersua Dalam Kearifan Masyarakat Talang Mamak, Royongan Menuai Padi

Aktivitas Menuai Padi Masyarakat Talang Mamak
Memanen sepertinya sudah menjadi hal yang biasa bagi kita. Namun lain bagi masyarakat Talang Mamak, salah satu suku yang hidup di pedalaman Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Tradisi memanen suku Talang Mamak telah menjadi tradisi rutin yang dilakukan secara turun temurun. Dalam tradisi ini, memanen padi dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat. Mereka memanen bersama-sama ladang miliknya secara bergantian dari ladang yang satu ke ladang yang lain. Alat yang digunakan untuk memanen adalah tuai. alat ini sangat sederhana, terbuat dari sebantang bambu kira-kira panjangnya sejengkal, kemudian bagian tengahnya disisipi lempengan seng dari kulit luar baterai yang dipasang secara horisontal. Tuai ini digunakan untuk memotong satu persatu tangkai padi. Proses memanen ini dilakukan oleh laki-laki dan perempuan baik tua maupun muda dengan  pembagian kerja yang hampir sama.

Hari itu (12/3) kebetulan sedang ada kegiatan menuai padi di ladang Pak Buchori. Rasa penasaran saya mengenai proses menuai padi ini kemudian membuat saya ingin melihat secara langsung  menuai padai tersebut. Pagi-pagi Saya dan  Mira kemudian menuju Dusun Simarantihan. Dusun yang masuk ke dalam Kawasan administratif Desa Suo-suo Kabupaten Tebo ini telah lama menjadi hunian tetap bagi masyarakat adat Talang Mamak. Masyarakat adat ini berasal dari Datai yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Pola hidup masyarakat yang berpindah-pindah menyebabkan mereka tersebar di beberapa wilayah. Selain di Simarantihan, Jambi bebrapa kelompok ada yang tinggal di Indragiri, Riau. Masyarakat adat talang-mamak yang tinggal di Simarantihan ini sebelumnya menempati wilayah Menggantal. Hingga kemudia ada Program Pemukiman Masyarakat Adat oleh pemerintah melalui dinas sosial yang kemudian menempatakn mereka di Simarantihan hingga sekarang. Pemerintah membangunkan rumah-rumah berukuran sedang untuk masig masing keluarga. Hingga saat ini Dusun Simarantihan telah dihuni oleh 40 Kepala Keluarga. Fasilitas yang ada disini sangat minim, tidak ada layanan kesehatan, Listrik dan telekomunikasi. Untungnya sudah ada sekolah dasar yang didirikan di sini, walaupun dengan tenaga pengajar yang sangat terbatas. Sebagian besar waktu masyarakat Talang Mamak ini dihabiskan di ladang. Mereka membangun pondok-pondok di ladang mereka dan tinggal disana bersama anak dan istrinya menunggui ladang tersebut. Jam pelajaran sekolah pun dimulai dari pukul 13.00 hinggga pukul 16.00 WIB. Selesai sekolah anak-anak juga kemudian kembali lagi ke pondok mereka dan kembali siang hari  esoknya. Pada masa panen padi seperti ini anak-anak ikut sibuk membantu di ladang, Jadi sekolah juga sering diliburkan pada masa-masa panen. 

Padi-padi yang telah dituai dimasukan kedalam Gending, semacam keranjang yang terbuat dari anyaman bambu. Bentuknya tidak terlalu besar, kira-kira seukuran bakul nasi. Setelah gending-gending terasa penuh kemudian dikumpulkan dan dimasukan kedalam selendang. Selendang ini berukuran cukup besar dengan bentuk tabung. Terbuat dari Kulit kayu meranti. Saat membawa gending ada bbebrapa aturan yang harus ditaati. Petani tidak boleh minum atau membuang air. selain itu juga tidak boleh memadatkan padi dengan cara diinjak dengan kaki. Cara menempatkan selendang tempat mmenampung padi ini juga harus dijemur dengan bagian atas menghadap ke arah matahari. Diperkirakan Penuaian padi di lahan Pak Buchori ini akan selesai dalam waktu 4 hari. Pak Buchori sendiri adalah salah satu pemangku adat Talang Mamak di Dusun Simarantihan ini.

Senja mulai berangsur tenggelam tergantikan malam. haya sebagian kecil masyarakat saja yang pulang menuju rumahnya. Sebagai besar tetap menghabiskan malam menunggui padi-padinya. Pondok-pondok yang dibangun memang disiapkan sebagai temapat tinggal kedua mereka. Malam di Dusun Simarantihan ternyata cukup ramai. walaupaun tidak ada aliran listrik, beberapa rumah sudah memiliki mesin diesel. Beberapa antena parabola juga nampak di halaman-halaman rumah. Di persimpangan masuk ke dusun ada sebuah warung yang dikelola oleh Pak Yanto dimana istrinya adalah satu-satunya guru yang mengajar si Simarantihan ini. Di warungnya yang sekaligus menjadi rumahnya terdapat miesin deisel serta  televisi parabola  yang selalau dinyalakan ketika sore hingga sekitar  tengah malam.  Tempat ini ramai pleh masyarakat yang menonoton TV atau sekedar mencari rokok atau kebutuhan lainnya. Hal ini mengingatkan waktu kkecil saya, dimana hanya ada beberapa televisi saja di kampaung. Besama dengan tetangga yang lain tiap malam saya selalu beramai-ramai menonton televisi yang waktu itu juga masih hanya berwarna hitam dan putih saja.
Saya Bersama Dengan Beberapa Perempuan Penuai Padi

Kehidupan Masyarakat Talang Mamak yang masih subsisten atau memanfaaatkan alam sebatas unuk pemenuhan kehidupan sehari-hari menjadi contoh harmonisasi yang cukup baik antara alam dan manusia. Tata cara memanen padi masyarakat ini bisa menjadi salah satu gambaran harmonisasi tersebut. Lokasi yang cukup jauh dan terpencil memang dapat menjaga masyarakat bertahan dalam kearifannya. Namun perlahan-lahan, dorongan masyarakat untuk bisa menikmati teknologi semakain besar. Jika tidak diimbangi dengan pemahaman kearifan lokal yang kuat maka bisa berdampak fatal terhadap kelestarian lingkungan. (leo)



Seri Menggapai Atap Andalas : Kerinci, Atap Tertinggi Sumatra (Bag 2)

Tugu Macan Maskot Desa Kersik Tuo
Gunung Kerinci masuk dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), yang melintang d sisi barat Pulau Sumatra dari padang, Jambi hingga Bengkulu. Kawasan ini juga menjadi benteng terakhir bagi satwa-satwa liar diantaranya Harimau Sumatera. Saat ini binatang endemik Sumatera ini status keberadaannya cukup memprihatinkan sementara kerabat terdekatnya Harimau Jawa dan Harimau Bali sudah dinyatakan punah. Di persimpangan hendak masuk jalur pendakian ada tugu macan yang juga menjadi juga menjadi ikon bagi wilayah ini. Wilayah Kerinci juga terkenal dengan teh kayu aro. Perkebunan teh ini terhampar luas di sekitar Gunung Kerinci. Teh kayu aro memiliki cita rasa yang khas dan sudah memiliki pasar ekspor yang bagus.

Setelah mengurus perijinan atau R10 bersama dengan sekelompok pendaki dari Bandung, saya langsung menuju Pintu Rimba. Gerbang yang menjadi perbatasan antara Taman nasional dan ladang masyarakat. Dengan Mengikuti Jalan Aspal, dari Pos Perijinan menuju  Pintu rimba ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit perjalanan. Suasana perkebunan nampak terlihat jelas dalam perjalanan menuju Pintu Rimba ini. Seringkali saya berjumpa dengan petani yang akan berangkan ke ladang. Banyak juga yang sudah berada di ladang, ada yang sedang menanam, menyeprot atau sekedar membersihkan tanaman dari rumput liar Dari dialog yang mereka ucapakan menunjukan bahwa mereka merupakan Suku Jawa. Wilayah Kerinci bagian tengah memang sebagain besar dihuni oleh orang jawa. Hal ini membuat seolah saya merasa di tanah sendiri jadinya.
Pondok Di Pos 1

Memasuki Pintu Rimba, nampak kontras sekali dengan sebelumnya. Saya langsung disambut dengan lebatnya hutan kerinci. Keteduah dan kesejukannya memberi saya tenaga baru setelah sebelumnya dipanggang dalam terik matahari. Untungnya sudah beberapa hari ini tidak turun hujan sehingga jalanan berlumpur  di sepanjang setapak hanya menyisakan jejak-jejak kaki yang nampak mulai mengeras. Dari Pintu Rimba menuju Pos 1 kemuian menuju pos 2 dan 3 jaraknya tidak begitu jauh. Jarak antar  posnya membutuhkan waktu sekitar 20 menit perjalanan. Jalur yang dilewati pada pos ini relatif landai dengan tutupan hutan yang cukup lebat. Di sebelah kiri jalur ini ada mata air, namun seringkali kering saat musim kemarau. Pada pos ini terdapat bangunan permanen yang dapat digunakan untuk beristirahat, namun para pendaki tidak dianjurkan untuk menginap di daerah ini dikarenakan harimau sumatera seringkali melintas di daerah ini. Bunyi-bunyi beruk, simpai dan berbagai jenis hewan terdengar jelas. Menunjukn ekosistem di sekitar sini masih bagus. Tempat ini sepertinya memang akan menjadi benteng terakhir bagi satwa liar.

Menuju ke Shelter 1, medan mulai berat, jalanan yang terjal dan akar-akar yang melintang menjadi awal tantangan menapaki setapak kerinci ini. Beberapa kali saya harus menggunakan kedua tangan saya sebagai tumpuan untuk bisa melewati jalan yang memang cukup terjal. Mendaki gunung sendirian selain dibutuhkan mental juga dibutuhkan fisik yang tangguh, karena peralatan dan perlengkapan tentunya akan dibawa sendiri. Saya sendiri mulai merasa kepayahan, selain beban yang cukup berat perjalanan jauh semalaman tadisepertinya sudah cukup menguras tenaga saya. Untuk menuju shelter 1 ini saya membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Sesampai di shelter ini saya langsung membongkar peralatan masak, saya perlu mengisi ulang tenaga. Tanpa banyak membuang waktu, sepring mie cornet sudah terhidang dan siap disantap.
Suasana di Shelter 1

Perlahan-lahan tenaga saya mulai pulih kembali. Barang-barang dan perlengkapan memasak  sudah kemablai terpacking. Saya pun sudah siap melanjutkan perjalanan kembali. Target saya kalai ini adalah shelter 2. Medan menuju shelter 2 bertambah berat, semakin terjal dan banyakakar-akar yang melintang. Tangan saya selalau aktif dan sering menjadi tumpuan untukbisa mengangkat tubuh saya melewati jalan yang curam. Tutupan hutan yang rapat sedikit demisedikit mulai terbuka. Mulai nampak jenis pohon-pohon perdu dan semak. Kabut tipis dan angin terasa sampai menusuk tulang. Menurut keterangan penduduk di bawah, sat musim terang seperti ini angin memang bertiup kencang. tak ingin, mengambil resiko, saya kemudian mengenakan rain coat. Berharap semoga bisa untuk melindungi kulit-kulit tubuh dari terpaan angin. setelah berjalan selam kekitar 3 4 jam perjalan saya akhirnya tiba di shelter 2. Tiupan angin semakin terasa kencang. untungnya di tempat ini cukup terlindung oleh tanaman-tanam perdu dan tebing. Nampakbekas bangunan pos yang hanya tertingal rangka saja. tiupan angin besar sepertinya sudah mengkoyak-koyak atap dan dinding bangunan tersebut. Sya pun kemudian mendirikan tendan di balik tebing bersama sekelompok pendaki yang lain.Angin terus bertiup kencang dan udara semakin dingin. Perangkat GPS di saku saya menunjuk pada 3050 mdpl. Gigi-gigiku mulai saling beradu, dan tubuh mulai menggigil. (Bersambung) Melihat Kerinci, atap Tertinggi Sumatra (Bag 1)

Rabu, 06 Maret 2013

Seri Menggapai Atap Andalas : Kerinci, Atap Tertinggi Sumatra (Bag 1)

Gunung Kerinci Dilihat Dari KersikTuo
Sesampai di Kota Jambi (26/2), waktu yang ada kugunakan dengan sebaik-baiknya untuk berbelanja sejumlah perbekalan. Saya harus benar-benar memperhitungkan barang yag akan saya beli agar tidak terlalau berat namun masih safety. Ini akan menjadi pendakian solo ku yang pertama. menuju gunung tertinggi di pulau Sumatera sekaligus gunung tertinggi kedua di Indonesia. Perjalanan selama 5 jam dari Tebo menuju Jambi cukup membuat tubuhku lelah, ditambah udara panas di siang itu. Saya harus banyak minum dan cukup makan bergizi agar tubuh tetap fit.

Dari kota Jambi, untuk menuju kerinci saya menggunakan travel Safa Marva. sebetulnya ada banyak  travel menuju kerinci seperti Ayu Travel, Duta Kerinci, dan lainnya. Saya tak mau ambil pusing dengan banyaknya pilihan tersebut. Safa marwa menjadi piihan saya dan berharap travel ini bisa memberikan pelayanan yang nyaman mengngat perjalanan yang saya tempuh akan cukup lama, sekitar 10-11 jam perjalanan.

(27/2) menjelang petang travel sudah menjemput, mobil Elf bercat gelap berkapasitas 8 penumpang. Saya pun segera bergegas dan berharap tidak ada barang yang saya tertinggal. Saya duduk di kursi paling belakang, tidak terlalau nyaman memang karena guncangannya pasti akan lebih terasa. Setelah menjemput beberepa penumpang, mobil yang saya tunggangi langsung meluncur menuju kot Sungai penuh, Kerinci. Semua bangku terisi, saya harus rela berdesakan tempat duduk. harapan untuk bisa tidur selama perjalanan sepertinya lenyap sudah saat menyadari bahwa  AC mobil juga tidak menyala. Udara panas Sumatra membuat saya bermandikan keringat. Setelah sekitar 2 jam berjalan, mobil yang saya naiki berhenti di sebuah rumah makan. Perut yang memang sejak sore tadi belum saya isi juga sudah merongrong sejak tadi. Saya pun langsung memesan satu porsi nasi padang. Setelah perut terisi kantuk pun tidak bisa saya cegah lagi. Saya akhirnya bisa tertidur walalupun sesekali terbangun saat mobil terguncang cukup keras.

Memasuki wilayah Batang Merangin mendekati Kerinci, saya terbangun. Guncangan keras dalam mobil cukup teras semakin sering. memandang luar jendela, jalan memang tampak buruk dan bergelombang. Sepanjang jalan juga terlihat gelap, sepertinya di wilayah ini belum terpasang listrik. Sesekali saya menjumpai bekas-bekas longsoran- dari lereng tebing di tepi jalan. Pada musim penghujan sepertinya di sekitar daerah ini sering terjadi longsor dan tentunya pasti akan mengahambat arus lalu lintas. Tak lama saya pun tiba di sungai penuh. Hari masih cukup gelap saat itu, jam ditangan saya baru menunjuk pukul lima pagi. Pak Supir kemudian menunjukan mobil angkutan yang akan mengantar ke Desa Kayu Aro, Kersik Tuo. Tempat ini akan jadi titik start pendakian saya.

Mobil angkutan menurunkan saya di simpang macan. Untuk melanjutkan perjalanan saya bisa berjalan kaki atau naik ojek menuju tempat perijinan yang lokasinya berjarak seitar 2 km. Beberapa lama menunggu, sepertinya tak ada ojek yang melintas. Ibu penjual makanan di seberang jalan menyarankan saya untuk singgah di basecamp dulu atau landung ke atas dengan menumpang mobil yang mengangkut sayuran. Saya pun kemudian mencegat seorang pengendara sepeda motor untuk minta tumpangan. Untungnya Bapak ini tidak keberatan mengatar saya hingga pos perijinan.
Bersama Rombongan Dari Bandung (Saya Paling Kiri)
Saya tidak benar-benar sendiri mendaki Gunung Kerinci ini, di pos perizinan sudah ada enam pendaki dari Bandung yang sedang menunggu petugas di pos ini. kami langsung saling berkealan dan mengakrabkan diri. Tiga orang dari mereka adalah mahasiswa kedokteran di Unpad. Akan jadi pengalaman yang menarik tentunya mendaki bersama para calon dokter, pastinya akan ada pelajaran menarik yang bisa saya dapat  ilmu medis di lapangan dari para calon dokter ini.(Bersambung)

Rabu, 20 Februari 2013

Matahari Pertama di Jambi


Belum sempat alarm yang ku setel pada pukul 04.00 berbunyi, aku sudah terjaga. ku lihat jam masih menunjuk pukul 03.05, nampak sekitar sudah ramai orang. aku berusaha tidur lagi namun rupanya gagal karena orang yang berlalu lalang di depanku. akhirnya aku mengemasi barang-barangku dan kuputuskan untuk langsung chek in saja, menunggu di dalam tetntu saja jauh lebih nyaman. aku menuruni tangga dan nampak di bawah sudah penuh sesak orang yang juga akan terbang pada pagi ini. agar lebih fres aku singgah dulu ke kamar mandi, untuk buang air kecil dan membasuh muka. kamar mandi cukup bersi dan ada sediit tempat untuk meletakan carierku seingga aku bisa dengan nyaman meletakan carierku semntara bacpakc satunya yang berisi laptop tetap aku gendong.

Aku memasuki ruang chek in dan kemudian memasuki boarding pass. tepat pukul 05. 45 pesawat sudah bersiap untuk take off. tak seperti hari sebelumnya, beruntung matahari pagi ini bersinar cerah. kabut tipis nampak memudar seiring semakin cerahnya sinar mentari. dari balik jendela kulihat rumah-rumah, jalan dan pepohonan semakin mengecil. pesawat membawa kami terbang semakin tinggi hingga apa yang aku lihat tampak samar-samar kemudian hilang tertutup awan.

Suara lembut pramugari membangunkanku dari tidur, memperingatkan penumpang agar tetap mengenakan sabuk pengaman karena pesawat akan landing. jajaran pepohonan sawit nampak luas membentang, sebuah pemandangan yang akan mejadi tontonan harianku kelak.

Tepat pukul 07.00 kami mendarat di bandara Sultan Thaha jambi. tak banyak pesawat yang nampak karenan memang bandara ini cukup kecil, mungkin hanya melayani beberapa rute penerbangan saja. berbagai atribut melayu, sekilas mungkin seperti minang dengan rumah gadang dan baju adatnya nampak meyambut kedatangan para penumpang. menuju pintu keluar, aku menunggu bagasi yang sedang diturunkan dar pesawat. setelah kudapat tas ku aku pun langsung menghubungi Pak Cahyo, sopir yang akan menjemputku. Pak Cahyo ternyata sudah menungguku, akupun meluncur menuju duniaku yang baru, selamat datang di kota jambi, selamat menikmati tangisan hutan rimba

Ingin rasanya aku merebahkan diri, namun rupanya sabtu ini aku harus menjalani medikal check up dulu. setiap staff FZS diharuskan bebas dari hepatitis. agak mengejutkan memang karena jika akau kemudian dinyatakan positif, dengan terpaks maka akau akan dipulangkan. Oh my Gosh......
Sepertinya pihak FZS takut jika orang hutan nanti tertular hepatitis atau TBC

Menginap Di Bandara Soetta, Mantap Eeuuy

Aku sendiri tak menyangka, akhirnya aku mengambil keputusan ini. Meninggalkan pekerjaanku dan berbagai aktivitas yang lainnya di sebuah kota di kaki bukit gunung slamet, Kota Purwokerto. Kota  keci lyang sungguh-sungguh menyimpan banyak kenangan. Hampir Sembilan tahun aku menghabiskan hidupku di kota tersebut. Dari sejak kuliah, bekerja hingga aku benar-benar memutuskan untuk meninggalkannya.

Hal yang gila dan cukup mengejutkan, aku keluar dari tempat kerjaku dengan alasan bahwa saya akan ikut ekspedisi orang hutan di Sumatra. namun nyatanya sebenarnya itu hanya menjadi alasanku saja untuk  keluar. permintaanku resignku agak diterima dengan berat hati oleh manager dan direktur. dan aku diberi pilihan agar off saja, sehingga aku bisa kembali bekerja jika proyek sudah selesai.


Memasuki masa off, aku pun terkatung-katung dirumah sambil mencari-cari info pekerjaan. dan tak kusangka aku diterima disebuah organisasi international bernama FZS, Frankfurt Zoological society di Jambi. Aku tidak tau secara pasti lembaga apa ini, namun sepertinya lebih banyak bergerak di penyelamatan satwa liar. Ini akan menjadi perjalanan petualanganku yang pertama di tanah sumatera. aku harap  dengan bekal pengalamankan bekerja di pengorganisasian masyarakat banyak hal berguna yang bisa aku perbuat. 

Walaupun masih banyak tanda tanya mengenai kehidupan di sana, dengan penuh semangat aku segera meluncur menuju Jakarta untuk kemudian melanjutkan terbang ke Jambi. sialnya Banjir sedang mengepung Jakarta, harapan untuk berkumpul sesaat bersama teman-teman Jakarta pupus sudah. akhirnya aku menginap di tempat seseorang yang pernah dekat dan masih dekat di hatiku. 

suasana di waving galeri
Jadwal terbang yang cukup pagi 5.45 memaksaku harus sudah tiba pukul 04.45 di Bandara Soekarno Hatta. dalam kondisi jakarta yang sedang terkepung banjir, pilihan paling aman yang kuambil adalah aku sudah sampai di bandara pada malam harinya. Setiba di Terminal kampung rambutan hampir saja aku tertinggal bus angkutan bandara paling terakhir. sambil berlari-lari mengendong tas carier untungnya aku bisa mengejar bus yang memang melaju lambat. tak sempat mengucapkan perpisahan dengannya aku memasuki bus, dan hanya ada dua penumpang saja. aku dan seorang laki-laki. Bus Damri angkutan Bandara ini cukup nyaman dan bersih. untuk  sekali perjalan bus ini mengenakan tarif Rp 25.000. 

Pemandangan dari waving galery : nampak pesawat lion air
Sesampai di terminal 1B bandara Soekarnia Hatta rupanya nampak banyak juga orang yang tidur atau sekedar tiduran menunggu penerbangan esok hari. tanpa pikir panjang kau langsung menuju ATM mengingat uang di kantungku sudah hampir habis kemudian langsung menuju ke lantai 2 yang merupakan waving galeri atau tempat para pengantar yang ingin melepas kepergian kerabat atau saudara. Di lantai 2 ini ruangan cukup terbuka hanya ada atap daan dinding pembatas yang tak sepeuhnya menutup ruangan. walaupun cukup terbukan tempat ini banyak dimanfaatkan oleh orang untuk beristirahat pada malam hari. aku pun menyusuri waving galeri ini, cukup terbuka dan berisik. namun tempat ini aku pikir cukup nyaman daripada di bawah yang penuh sesak orang. Aku mengambil tempat yang agak sepi dan lemudian menggelar sleeping bag, makanan kecil aku keluarkan. Akhirnya aku bisa meluruskan punggungku. Tak berapa lama tiduran kantuk pun datang sialnya aku pun tak sanggup lagi menahan kencingku. Sangat beresiko jika aku turun ke bawah menuju kamar mandi dan meninggalkan barang-barangku di atas. Jika aku kemasi pun rasanya juga malas. akhirnya aku memanfaatkan botol air minum untuk menampung air kencingku , ah lega rasanya....dan akhirnya aku bisa tidur cukup pulas. Terimakasih Tuhan.