Tampilkan postingan dengan label Konservasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konservasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 November 2013

KERUGIAN AKIBAT KONFLIK GAJAH DI TEBO JAMBI MENCAPAI 13 MILYAR


AUDIENSI DENGAN KOMISI II DPRD TEBO : KERUGIAN AKIBAT KONFLIK GAJAH DI TEBO JAMBI MENCAPAI 13 MILYAR
Tebo 31 Oktober 2013
Wakil Ketua DPRD Tebo Sedang Memimpin Audiensi
Sejumlah perwakilan masyarakat yang berasal dari Kecamatan Sekalo, Kecamatan Serai Serumpun dan Kecamatan VII Koto mengadukan permasalahan konflik gajah yang sudah lama dihadapi oleh masyarakat,melalui audiensi yang difasilitasi oleh Komisi II DPRD Tebo.  Turut diundang dan hadir  pada audiensi ini yaitu Dinas kehutanan,BKSDA,  Franfurt Zoological Society (FZS), PT LAJ dan Asisten I.
Pada audiensi ini masyarakat mempertanyakan mengenai SK Bupati mengenai pembentukan Tim Koordinasi Penanggulangan Satwa liar yang sudah terbentuk sejak tahun 2010 namun sampai sekarang belum ada tindakannya yang jelas. Masyarakat juga mengharapkan adanya solusi untuk penanggulangan konflik gajah yang dihadapi masyarakat. Kepala Desa Kuamang menyampaikan “Konflik gajah yang dihadapi masyarakat sebenarnya sudah terjadi sangat lama. Sudah ribuan hektar lahan masyarakat yang menjadi korban namun belum ada tindakan yang jelas”. Pernyataan  serupa juga di ungkapkan oleh Suyono dari Desa SP5 yang menyatakan “pemerintah cukup lamban dalam menanggulangai konflik. Karena konflik sudah terjadi cukup lama namun belum ada tindakan dari pemerintah”.
Konflik antara manusia dan gajah yang dialami masyarakat semakin tinggi karena habitat gajah sudah habis. Banyak kawasan hutan yang tadinya merupakan habitat gajah dikonversi menjadi areal HTI, perkebunan dan pertambangan. Hal ini yang menyebabkan konflik gajah semakin tinggi karena minimnya ktersediaan pakan gajah di hutan sehingga gajahmasuk ke kebun masyarakat. Dari data yang dikumpulkan oleh Franfurt Zoological Society kerugian yang dialami olah masyarakat mencapai Rp 13.658.442.020,- ini belum termasuk kerugian secara psikhis yang dialami masyarakat saat berkonflik. Bahkan hingga jatuh korban jiwa. Albert Tetanus dari FZS kemudian juga menyampaikan “ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengurangi resiko kerusakan akibat konflik dengan gajah seperti menjaga kebun, penggunaaan meriam karbit, Bom asap,dan pembangunan pagar listrik”. Pagar listrik menjadi metode yang cukup efektif namun biayanya cukup mahal. “Pagar listrik ini sudah dibangun di desa Sekutur Jaya kecamatan serai serumpun atas kerjasama dari FZS, BKSDA dan Masyarakat dan sampai sekarang cukup berhasil untuk mecegah gajah memasui kebun-kebun sawit milik masyarakat”, tambahnya.
Pak Prayitno dari Dinas kehutanan menyampaikan juga “Adanya pembentukan tim koordinasi penanggulangan satwa liar merupakan tindak lanjut karena jatuhnya korban jiwa 1 orang meninggal dunia karena konflik dengan gajah di kecamatan VII Koto. Namun setelah tim koordinasi ini dibentuk kemudian belum ada koordinasi sampai sekarang”.
Kemudian Pak Popri dari Komisi II menyampaikan “ Untuk kedepannya perlu merevisi tim koordinasi penangulangan satwa liar agar lebih efektif. Selain itu kemudian juga dianggarkan untuk kegiatan kegiatannya termasuk juga di setiap dinas. Jadi di depan tidak ada lagi alasan tidak ada anggaran untuk penanggulangan konflik dengan satwa liar”.
Adanya areal khusus untuk gajah menjadi hal penting karena untuk penanggulangan konfliknya menjadi lebih mudah. Dan jika sudah ditetapkan maka areal ini tidak boleh diganggu-ganggu lagi dan diubah untuk penggunaan lain. Areal ini nantinya selain menjadi pusat konservasi juga akan menjadi pusat pendidikan dan yang lainnya. Peran swasta diharapkan juga dapat membantu masyarakat untuk mananggulangai konflik karena adanya perusahaan yang beroperasi di kawasan bukit tiga puluh ini juga berkonstribusi terhdap rusaknya habitat gajah. Setidaknya dari dana CSR yang dimiliki oleh perusahaan. Dari  hasil Audiensi ini diputuskan akan adanya pembahasan lebih teknis dan perumusan strtegi untuk penanggulangan konfliknya. Untuk itu pada audiensi yang dipimpi oleh Wakil Ketua DPRD Tebo ini kemudian menetapkan Tim Ad hoc yang berfungsi untuk merumuskan strategi tersebut. Tim Ad hoc yang di koordinatori oleh Dinas Kehutanan diberi waktu selama satu mingggu untuk kemudian memaparkan hasilnya. Untuk jangka waktu dekatnya BKSDA diminta untuk dapat merespon konflik yang ada dimasyarakat sampai kemudian ada rumusan strateginya.(leo)

Senin, 20 Mei 2013

Ingin Peliharaan,Peliharalah Gajah Sumatra

 
Pemasangan GPS Collar Pada Gajah Anna
Anna, Bella, Cinta, Dadang dan Elena adalah nama gajah Indonesia yang ditawarkan untuk dipungut, sebagai bagian dari proyek perlindungan atas gajah Asia yang langka agar hewan berbelalai itu tetap bisa hidup di alam bebas.
Lima gajah tersebut masuk sebagai bagian proyek konservasi untuk menyelamatkan gajah-gajah Asia.
"Karena habitat mereka hilang, konflik dengan komunitas lokal meningkat, menyebabkan kematian di kedua pihak,” ujar Cocks, pegiat konservasi dari International Elephant Project, Jumat (22/3) di Sydney.
Anna, Bella, Cinta, Dadang dan Elena adalah lima gajah yang berasal wilayah Bukit Tigapuluh, di antara provinsi Jambi dan Riau. 
''Penebangan hutan di Sumatra menyebabkan para gajah diracun warga desa yang ingin melindungi tanaman mereka dari satwa-satwa yang kelaparan tersebut, Kondisi gajah-gajah Asia jauh lebih kritis daripada gajah Afrika karena jumlahnya lebih sedikit,'' ujar Leif Cocks, salah satu pendiri proyek tersebut.
''Di sini mereka memungkinkn untuk tetap hidup di alam liar,'' jelasnya. 
Gajah-gajah pertama yang menjadi fokus saat ini adalah gajah Sumatra, yang memang sangat terdesak. Ada 1.200 sampai 1.600 maksimum yang tersisa di alam liar, dan mereka populasi yang terfragmentasi.
Sedangkan mengenai lima gajah yang bisa “diadopsi” itu merupakan bagian dari kumpulan yang berbeda di wilayah Bukit Tigapuluh, di antara provinsi Jambi dan Riau, yang mengalami deforestasi yang pesat akibat pembukaan perkebunan kelapa sawit dan penebangan kayu untuk kertas. Saat ini, masing-masing gajah dilengkapi dengan kalung GPS, agar dapat dimonitor keberadaan dan gerakannya.
Kalung tersebut juga membuat pekerja proyek ini mengetahui kapan gajah-gajah tersebut mendekati wilayah berpenduduk dan memungkinkan untuk menghalau mereka sebelum masalah muncul. Adopsi mulai dari A$65 (sekitar Rp 670.000) dan termasuk kabar terbaru yang rutin dikirim mengenai tiap gajah lewat data GPS.
Sumber : http://www.antaranews.com/berita/364699/ingin-peliharaan-pungutlah-gajah-indonesia

Sabtu, 18 Mei 2013

Asal Mula Keruwetan Pengelolaan Kawasan Hutan Lanskap Bukit Tigapuluh


Area BekasTebangan di Sekitar Bukit Tigapuluh (Dok : Pribadi)
Rusaknya hutan lanskap Bukit Tigapuluh bermula ketika kawasan itu diserahkan kepada PT Industries et Forest Asiatiques (IFA), HPH yang berada dibawah naungan Barito Pasific Group. Menteri Kehtanan mengeluarkan perpanjangan izin HPH PT IFA di Provinsi Jambi dan Riau berdasarkan SK Menhut No.608/Menhut-VI/1993 terhitung tanggal 17 juli 1998 - 16 Juli 2008 dengan PT IFA Jambi (Blok Pasir Mayang) Kabupaten Tebo seluas 108.000 ha dan PT IFA Riau (Blok Rengat) Kabupaten IndragiriHulu seluas 70.000 ha. Namun September 2001 PT IFA menyerahkan pengelolaan areal konsesinya kepada pemerintah.
Setelah penyerahan inilah kemudian terjadi tumpang tindih pengelolaan kawasan eks IFA baik yang berada di Jambi maupun yang berada di Riau, dengan terbitnya sejumlah perizinan. Sedikitnya ada 8 perizinan yang keluar dari wilayah ini. Belakangan Menteri Kehutanan mencabut dan meminta meninjau ulang beberapa diantara izin tersebut. Sampai sekarang kawasan eks PT IFA itu masih menunggu proses penetapan status baru oleh Menteri Kehutanan Lanskap Hutan Bukit Tigapuluh merupakan blok hutan alam yang bersambungan seluas 507.814,78 ha, terdiri dari hutan dataran rendah keringa dan peguanungan. Lanskap bukit Tigapuluh dan Lanskap Hutan Tesso Nilo merupakan kawasan akhir yang tersisa dari hutan dataran rendah kering yang saling bersambungan di Pulau Sumatera. Kawasan ini dapat dikaterogikan hampir "punah" di Sumatera. Sebelumnya Bukit Tigapuluh relatif aman dari konservasi skala besar karena topografinya yang berbukit, kondisi hutannya juga masih relatif baik. Namun kini terancam akibat kehadiran sejumalah perusahaan dan terbukanya akses karena pembukaan koridor.
Keadaan ini mendorong terjadinya okupasi lahan yang dilakukan oleh masyarakat. Akibatnya terjadi open acces resources tragedi (tragedi akses sumberdaya alam yang terbuka). Perlindungan dan pengamanan yang maksimal, harusnya menjadi pilihan mutlak yang harus dilakukan, jika tidak maka hamparan hutan dataran rendah Sumatera dengan nilai konservasi tinggi ini akan tinggal kenangan, disusul dengan bencana lingkungan akibat rusaknya ekologi. (Sumareni-KKI Warsi)

Minggu, 14 April 2013

Masa Depan Gajah Sumatra Di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh : Terdesak Di Rumah Mereka Sendiri

Gajah Sumatra yang semakin terdesak di rumah mereka sendiri
Banyak Orang beranggapan bahwa Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) merupakan habitat gajah sumatra. Hal ini merupakan pernyataan yang keliru. Kontur TNBT yang berbukit-bukit dan terjal bukan tempat hidup yang disukai oleh gajah. Kawanan gajah banyak tersebar disekitar kawasan TNBT yang berada di provinsi Riau Dan Jambi. Di Kabupaten Jambi TNBT berada di dua kabupaten yaitu Kabupaen Tebo dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Populasi gajah Jambi ini banyak berada di Kabupaten Tebo yang tersebar di Sekitar wilayah penyangga dan HTI. Menurut pantauan Forum Mhout, jumlah gajah di Jambi ini sekarang ini hanya tersisa sekitar 40 ekor (sumber antara).

Permasalahan yang dihadapi sekarang adalah semakin sempitnya ruang hidup gajah di kawasan ini. Total luas kawasan TNBT saat ini adalah 144.223 ha dengan kecenderungan semakin sempitnya tutupan hutan alam. Setidaknya ada sebelas perusahaan yang memegang konsesi pengeloaan hutan di sekitar kawasan TNBT. Berdasarkan data dari Frankfurt Zoological Society (FZS) terdapat 11 perkebunan Sawit, HTI dan tambang batubara yang berbatasan langsung dengan kawasan TNBT. Kawasan yang menjadi lahan konsesi perusahaan-perusahaan ini sebagian besar adalah habitat gajah, harimau dan orangutan sumatera. Kesebelas perusahaan ini adalah sebagai berikut :
   1. PT. Tebo Multi Agro
   2. PT. Lestari Asri Jaya
   3. PT. Arangan Lestari
   4. PT. Asian Agro
   5. PT. Agro Wiyana
   6. PT. Wanamukti Wisesa
   7. PT. Tebo Alam Lestari
   8. PT. Persada Bara Mandiri
   9. PT. Global Alam Lestari
  10. PT. Tebo Agung Internasional
  11. PT. Kelola Tebo Energi
   ( sumber ; mongabay)
Aktivitas pembukaan hutan disekitar TNBT oleh PT LAJ
Semakin sempitnya ruang jelajan gajah tidak hanya disebabkan oleh alih fungsi hutan oleh perusahaan tersebut. Desakan cukup besar juga berasal dari aktivitas masyarakat yang melakukan perambahan hutan. Aktivitas ini tidak hanya mempersempit ruang jelajah gajah tetapi juga semakin meningkatkan konflik antara manusia dan gajah. Setidaknya ada sekitar lima desa yang menjadi daerah rawan konflik manusia dan gajah di kabupaten Tebo ini. Yatu Desa SP 2, Simambu, Sekalo, Suosuo, Dan Desa Pemayungan. Konflik yang terjadi antara manusia dan gajah ini telah menyebakan ratusan hektar kebun sawit dan puluhan pondok milik masyarakat menjadi korban. Serta Korban jiwa baik di pihak manusia maupun gajah.

Keseriusan pemerintah untuk melesatarikan gajah, tidak cukup dengan hanya menetapkan status gajah sumatra ini sebagai binantang yang dilindungi. Perlu tindakan serius untuk menata kembali ekosistem dan tata ruang yang ada di sekitar kawasan TNBT ini. Pemerintah perlu melakukan restorasi dan memoratorium kawasan hutan di sekitar kawasan TNBT. Saat ini posisi gajah tejepit diantara perkebunan dan ladang-ladang milik masyarakat. sehingga perlu dibangun koridor hijau yang akan menghubungkan antar petak hutan yang satu dengan yang petak hutan lainnya yang masih tersisa.  Di beberapa wilayah sudah terbentuk tim mitigasi konflik yang bertujuan untuk mengurangi resiko konflik manusi gajah. FZS sendiri telah melakukan pemasangan pagar listrik dan beberapa GPS collar untuk memantau posisi gajah. Namun semua itu belum cukup tanpa komitmen yang kuat. Perlu dibuat semacam rencana aksi untuk penangggulangan konflik manusia gajah ini yang melibatkan pemerintah, masyarakat dan perusahaan. (leo)



Jumat, 05 April 2013

Aren Dalam Tantangan Zaman


 
Pak Nur Sedang Menderes Aren
Kabut tebal yang turun belum sepenuhnya hilang.  Daun dan rerumputan masih Nampak basah. Burung-burung juga nampaknya enggan berkicau di tengah udara yang cukup dingin itu.  Sinar matahari yang samar-samar muncul sepertinya belum cukup untuk memberikan kehangatan setelah semalam diguyur hujan deras. Pak Nur Cahyo (54) bersama dangan belasan penderes aren lainnya di Dusun Deles Desa Sirongge sudah bersiap siap untuk mengambil hasil sadapannya yang semenjak sore sudah dipasang di pohon aren miliknya. Dingin dan tebalnya kabut pagi itu tidak menyurutkan niat Pak Nur untuk menderes. Hasil deresannya tersebut nantinya akan diserahkan kepada istrinya untuk diproses menjadi gula aren.
Penderes adalah istilah yang diberikan kepada para penyadap pohon aren untuk kemudian diolah menjadi gula. Menderes sudah menjadi pekerjaan yang menghidupi mereka selama puluhan tahun. Tidak jelas siapa yang mengawali aktivitas ini, namun dari menderes inilah masyarakat telah bertahan hidup. Dan masyarakat menyebutnya ini sebagai “air gaib”.  Hampir selama lima belas tahun ini Pak Nur sudah menderes pohon aren. Setiap pagi – pagi buta ia selalu pergi ke kebun dan hutan untuk mengambil hasil deresannya. Kemudian menngantinya dengan pongkor atau tempat penampung  nira yang masih kosong untuk kembali diambil pada sore harinya. Jadi dalam sehari pohon aren dapat disadap selama dua kali. Tak banyak nira yang diperoleh oleh Pak Nur pada pagi ini. Pada musim-musim peralihan cuaca seperti ini memang produktivitas nira sedang menurun. Kualitas nira yang dihasilkan juga jelek. Sehingga sering juga gula yang dihasilkan gagal atau disebut sebagai “gula gemblung”.
Pada sekitar tahun 90-an masih banyak terdapat penderes aren. Pohon aren yang tumbuh pun masih sangant banyak. Hampir setiap rumah mempunyai pohon aren. Namun saat ini hanya tingggal beberapa puluh saja yang tersisa. Pohon arennya pun tinggal sedikit. Semakin menurunnya produktivitas pohon dan sangat minimnya regenerasi penderes baru menyebabkan aktivitas menderes aren semakin sedikit. Banyak masyarakat yang memilih untuk menjual pohon arennya karena banyak pihak yang mengincar pohon aren untuk diambil sari tepungnya atau yang disebut “gelang”. Satu pohon aren dewasa dijual 100 s/d 200 ribu rupiah. Selain itu masalah budidaya tanaman yang masih alami. Persebaran tanaman ini masih mengandalkan Luwak sebagai medianya. Sementara populasi hewan luwak ini juga semakin langka. Bahkan di beberapa desa seperti Desa Beji dan Getas, jumlah pohon aren hampir habis karena adanya alih fungi menjadi perkebunan teh melalui program PIR yang digalakan oleh Dinas perkebunana waktu itu.
Harga satu kilogram gula aren saat ini dipasar mencapai Rp 15.000. namun kadang belum samapi dijual ke pasar, gula aren sudah habis dibeli oleh para tetangga atau pesanan. Banyak orang yang memanfaatkan gula aren ini sebagai campuran jamu atau sekedar bumbu pemanis dapur. Namun banyak pihak juga terutama penampung-penampung di pasar yang memanfaatkan tingginya permintaan pasar. Semntara ketersediaan gula aren semakin sedikit. Sehingga banyak penampung yang mencampur gula aren dengan gula kelapa atau bahkan dicampur dengan terigu. Hal ini yang menyebabkan harga gula aren tidak kunjung merangkak naik. Karena minimnya kepercayaan pasar terhadap kualitas gula aren.
Mendekati tengah hari gula yang “diindel” (istilah untuk mengolah nira menjadi gula; merebus nira hingga mengental kemudian dicetak) hampir jadi. Tak banyak nira yang direbus karena memang jumlah yang didapat juga sedikit. Mungkin hanya menghasilkan 2 – 3 kg gula aren. Padahal biasanya Pak Nur Bisa memproduksi 5 – 6 kg bahkan bisa lebih di saat-saat tertentu. Gula yang dihasilkan juga jelek, berwarna hitam kusam. Gula yang baik berwarna coklat cerah. Kondisi nira seperti itu memang riskan. Untuk menghindari terjadinya gula gemblung Istri Pak Nur biasanya menambahkan semacam bubuk pengeras yang berbentuk seperti tepung terigu. Bubuk ini merupakan natrium bizulfit yang digunakan untuk mengeraskan gula dan mencegah nira menjadi asam. Pemakaian obat ini dalam takaran yang melebihi batas sangat membahayakan kesehatan. “kalau terus menerus menggunakan obat ini biasanya wajan menjadi keropos dan tipis” terang Pak Nur disela-sela obrolan santai sambil menikmati wajik gula aren yang disuguhkan. Wajik ini juga menjadi khas makanan masyarakat pandanarum dan Kalibening.
Sudah banyak pihak yang beberapa kali mengadakan kegiatan untuk mendorong peningkatan mutu kualitas gula aren. Diantaranya adalah diversifikasi produk menjadi gula semut. Diharapakan dengan divesifikasi produk ini maka kulaitas gula aren dapat ditingkatkan sehingga akan menaikan harga gula. LPPSLH  dengan pengalamannya dalam pengorganisasian gula kelapa melalui sertifikasi organik. Sertifikasi menjadi persyaratan utama untuk bisa menembus pasar luar negeri.
Dusun deles menjadi salah satu dari beberapa dusun saja yang masih mengakrabi aren sebagai pencaharian hidup. Dusun ini terletak jauh dari jalan utama. Jalan yang dikeraskan menjadi satu-satunya akses jalan menuju kesana. Pohon aren nampak terlihat banyak sepanjang mata memandang. Tak jarang jika kita berjalan disana pada sore atau pagi hari akan menemui banyak sosok  laki-laki yang sudah termakan usia sedang memikul pongkor tempat nira. Minimnya regenerasi dari pemuda-pemuda desa memang menyebabkan aktivitas menderes ini hanya dilakaukan oelh orang – orang tua. Sementara pemuda desa lebih suka merantau ke kota.
Bu Daryonah masih mencoba mengingat aktivitasnya dulu saat setiap pagi merebus nira dan mencataknya jadi gula aren. Bu Daryonah juga menjadi  salah satu kader dalam kegiatan pembuatan gula semut. Sambil menyeruput teh panas dalam gelasnya Bu Daryonah menceritakan bagaimana kesibukannya dulu membuat gula semut, mendapat banyak pesanan bahkan hingga diminta melatih tetangganaya yang ingin membuat gula semut. Namun semua itu kini tinggal cerita karena saat ini Suaminya berada di Jakarta bekerja. Pohon aren yang jadi miliknya sedang tidak mengeluarkan nira. Sementara Bu Daryonah saat ini sibuk mengelola kebun Cabai. Sepertinya menderes aren sedang mengahadapi tantangannya, atau hanya akan menjadi cerita untuk anak cucu bagi Pak Nur. (leo)
.


Jumat, 22 Februari 2013

Senja Yang Menggantung di Balik Taman Nasional Bukit Tiga Puluh



Lahan bekas hutan yang akan ditanami karet
Matahari belum benar-benar tenggelam. Mata saya tertuju pada satu titik, memandang jauh kedalam sepetak hutan yang masih tersisa. Sesekali suara burung rangkong dan gagak terdengar jelas dari pondok tempat kami menginap malam ini. Suara monyet dan anjing hutan juga sesekali terdengar. Perlahan matahari pun kembali ke peraduannya.

Malam ini kami menginap di pondok Pak Noto di Desa Simambu. Pak Noto merupakan pendatang  keturunan  Jawa yang sebelumnya tinggal di Riau. Beliau tinggal bersama istri dan seorang anaknya serta kakeknya yang rumahnya tak jauh dari pondok tempat kami bermalam.

Kawanan gajah sedang melintas di batas hutan dan kebun
Belum lama, Gajah baru saja masuk ke Desa Simambu dan merusak kebun salah seorang warga, Pak Amir. Kebun sawit milik Pak amir untuk kesekian kalinya telah dirusak dan dimakan oleh kawanan gajah. Kawanan gajah ini juga merusak  sebuah pondok. Konflik antara manusia dan gajah di Desa Simambu bisa dibilang sering terjadi. terlebih setelah dibukanya lahan perkebunan baru oleh PT TAL dan penambangan Batubara oleh PT BBM serta perusahan lainnya.

Desa Semambu terletak cukup terpencil. Tidak hanya akses transportasi yang sulit, untuk komunikasi juga susah. Hanya ada beberapa titik yang bisa mendapat sinyal seluler. Untuk Listrik masyarakat mengandalkan mesin disesel yang dikelola oelh swasta. Listrik ini menyala hanya pada malam hari. setiap harinya masyarakat harus merogoh kocek Rp 3000 jika hanya menggunakan lampu. Jika ada Televisi maka ditambah Rp 2000 dan jika ada kulkas tambah lagi Rp 5000. Uang ini disetorkan setiap sepuluh hari kepada petugas yang akan mendatangi setiap pelanggan. Menurut keterangan Pak Toni, sekretaris Desa Simambu, pengelolaan listrik diesel ini akan diambil alih oleh desa. Aktifitas masyarakat semambu sebagian besar sebagai petani sawit dan karet. Beberapa juga ada yang membuka ladang ditanami padi dan tanaman umbi - umbian. Banyak kebun milik masyarkat yang berada di kawasan hutan. Karena tak sedikit dari mereka yang merambah dan membuka hutan untuk dijadikan kebun.

Aktivitas pertambangan oleh PT BBM
Di sekitar kawasan ini ada beberapa Perusahan perkebunan dan pertambangan yang lokasinya bisa dibilang cukup berdekatan. Seperti PT TAL, PT BBM, PT TAI, PT WKS, dan LAJ. Hampir semua perusahahn tersebut sedang mengalihfungsikan  hutan untuk ditanami karet dan sawit serta untuk tambang batubara.  Wilayah-wilayah ini berbatasan dengan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT). Kondisinya saat ini TNBT juga udah muulai dirambah. Semua aktivitas tersebut tentunya semakin mempersempit habitat gajah dan binatang lainnya. Rusaknya Habitat tentu saja berarti lenyap juga sumber makanan binatang-binantang tersebut terutama gajah yang membutuhkan  1 kwintal makanan setiap harinya. Tentunya kebun-kebun sawit dan  karet akan menjadi ladang makanan baru bagi kawanan gajah. Dan pada akhirnya akan berujung pada pembataian gajah karena dianggap sebagai hama. Dari pendataan yang dilakukan oleh LSM Frankfurt Zoological Society (FZS) pada tahun 2008 terdapat sekitar 300 ekor gajah di Kawasan TNBT ini. Jumlah tersebut terus berkurang setiap tahunnya. dan diperkirakan akan terus berkurang jika tidak ada kebijakan yang tegas untuk mengatasi masalah ini. Mungkinkah anak cucu kita akan masih akan melihat gajah sebagai binatang liar yang hidup di hutan-hutan mereka. Atau hanya akan menjadi cerita serta dongeng tidur bahwa disini pernah hidup mamalia besar yaitu gajah.







Kamis, 21 Februari 2013

Antara Sawit Dan Gajah Sumatera

Bekas hutan yang akan dialih funfsikan menjadi hutan karet

Bersama dengan Reza, dan dua orang anggota tim ECMU lainnya, saya  terus menyusuri jalan tanah yang ada di desa SP 5,masuk menuju wilayah hutan produksi PT Tebo Alam Lestari yang mendapat konsesi HPH untuk tanaman karet. Dari atas motor trail 125 cc yang saya tunggangi terdengar jelas raungan mesin chainsaw yang sedang mengiris batang pohon.

Nampak jelas pemandangan disamping kanan kiri bukit-bukit yang gundul. Hanya semak-semak dan batang kayu yang berserakan. Panas terik matahari tentunya sangat menyengat di sekitar sini. Terlihat juga pondok-pondok yang didirikan oleh masyarakat. Rencananya di wilayah ini akan dialih fungsikan menjadi tanaman karet. Oleh PT TAL masyarakat diperbolehkan untuk membuka lahan dan menanam karet di wilayah sini. Saya sendiri belum begitu jelas bagaimana mekanismenya, yang jelas hal ini bisa saja memicu adanya konflik sengketa lahan antara PT TAL dan masyarakat seperti yang sudah terjadi di banyak tempat.

Sepanjang jalan tanah yang nampak gersang dengan beberapa daerah yang berlumpur, banyak aku temui jejak kaki gajah. Kotoran-kotoran gajah terlihat pula tak jauh dari jejak-jejak tersebut. Menunjukan bahwa wilayah ini merupakan daerah jelajah gajah.  Ironisnya hanya tinggal sedikit sekali hutan yang tersisa untuk kehidupan mereka. Tanah Sumatra yang subur dan banyak mengandung emas hitam membuat banyak pengusaha terpikat dengannya. Banyak pula masyarkat dari berbagai wilayah yang merantau kesini mencoba peruntungan mereka di tanah yang berjuluk swarnadwipaha yang berarti tanah yang kaya raya.
Kotoran Gajah
Gajah Sumatra merupakan binatang endemik yang ada di beberapa wilayah sumatra. Di Provinsi jambi sendiri Gajah Sumatra berada di sekitar kawasan Taman Nasionan Bukit Tiga Puluh (TNBT). Namun Gajah Sumatra ini tidak berada dalam kawasan tersebut. Gajah Sumatra tersebar di sekitar hutan penyangga yang masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Tebo. Wilayah TNBT yang berkontur terjal dan berbukit-bukit bukanlah wilayah yang ideal untuk gajah yang bertubuh besar. Sehingga sejak dahulu memang gajah banyak berkeliaran di luar taman nasional.

Ada beberapa Desa yang menjadi ruang jelajah gajah yaitu Desa pemayungan, Simambu, Sekalo, Suosuo, serta wilayah transmigrasi dari SP 1 hingga Sp 7. Karena berada di wilayah jelajah gajah maka desa-desa tersebut sering sekali mengalami konflik dengan gajah. Seperti di Desa Simambu dan Sp 2, Gajah seringkali masuk dan memakan kebun sawit atau karet milik masyarakat. Tak sedikit kerugian material yang disebabkan oleh gajah ini. satu kawanan gajah yang biasanya berjumalah sekitar sepuluh ekor sanggup menghabiskan 1 hektar kebun sawit dalam semalam.

Selain berada di wilayah jelajah gajah, bukan tanpa sebab juga gajah-gajah ini masuk ke kebun masyarakat. Pembukaan hutan oleh beberapa PT salah satunya PT TAL semakin mempersempit habitat gajah-gajah tersebut. Belum lagi ditambah dengan pembukaan ladang-ladang baru oleh masyarakat. Pemebrian HPH oleh pemerintah kepada sejumlah PT seharusnya mempertimbangkan aspek tersebut. Jejak-jejak gajah dan kotoran di sepanjang jalan setapak dalam hutan produksi yang saat ini sedang dialihfungsikan menunjukan bahwa ada banyak  gajah berkeliaran di kawasan ini. Hilangnya habitat alami gajah-gajah tersebut berarti juga hilangnya sumber makanan mereka. Kebun kebun milik masyarakat akan menjadi sumber makanan baru bagi kawanan gajah dan masyarakat akan semakin menjadi korban dari hal ini. Ibarat buah simalakama, dibunuh salah, dibiarkan kebun habis dimakan.


Rabu, 20 Februari 2013

Bertahan Hidup Di Tengah Sawit

Pagar Listrik Untuk Menghalau Gajah
Wajah Pak Sarpan nampak cemas dan bingung. Sawit yang sudah ia panen kemarin belum juga bisa diangkut. lantaran hujan yang terus mengguyur sejak kemarin membuat jalan licin dan berlumpur. sementara jika terus dibiarkan tergeletak maka berat sawit akan semakin menyusut dan ambrol.

Pak Sarpan merupakan transmigran yang tinggal di SP 2, kepanjangan dari Sarana Pemukiman yang kini bernama Desa Sekutur Jaya. Bersama ratusan warga lainnya yang kebanyakan berasal dari daeraj Jawa. Pak Sarpan sendiri berasal dari Yogyakarta namun sebelumnya, bersama dengan istrinya sudah tinggal di Lampung. Pak Sarpan sekeluarga mengikuti program transmigrasi sejak tahun 1997. Sambil menghisap rokok putih bermerk Click, Pak Sarpan mengungkapkan  "kondisi awal dulu jauh lebih buruk". Dulu kami masih mendapat bantuan untuk hidup  sebesar duaratus ribu rupiah sampai buah sawit menghasilkan. Para Transmigran mendapat 1 buah rumah dan 1 buah kapling sawit seluas 2 hektar. setelah panen setiap petani harus mengembalikan pinjaman dari penaman sawit ke sebuah PT. Pengemablian dilakukan dengan cara memotong setiap hasil Panen yang disetor ke KUD sebesar 30 %. Banyak transmigran yang tidak sanggup bertahan dan kembali ke kampungnya. namun tak sedikit juga yang bertahan dan berhasil, Termasuk Pak Sarpan. Kini dari hasil Sawitnya pak Sarpan sudah bisa menguliahkan anaknya yang pertama. semantara yang anak yang kedua masih duduk di bangku SD.

Jalan jalan di daerah ini masih jalan tanah. saat turun hujan tentu saja akan sangat menghambat. tak sedikit mobil yang terjebak dalam kubangan lumpur. bagi petani sawit hal ini tentu sangat menyusahkan. karena mobil-mobil yang akan mengangkut sawit milik mereka  tidak bisa masuk. Hanya mobil dengan double Gardan yang bisa melintas. namun jika menggunakan mobil jenis ini tentunya siaya sewanya jauh lebih mahal. Listrik baru saja masuk sebulan ini. Sebelumnya warga menggunakan Genset untuk menghasilkan listrik yang dinyalakan hanya pada malam hari. inipun tak semua warga yang menggunakan. setiap harinya kurang lebih mereka mengeluarkan uang duapuluh sampai dengan tiga puluh ribu rupiah untuk membeli Solar. Biasanya Genset dinyalakan dari pukul lima sampai sepuluh malam,hanya sekedar untuk menikmati malam sambil menunggu kantuk tiba. Masuknya listrik membuat kehidupan di daerah ini semakin bergeliat. Beragam acara televisi dan perangkat elektronik lainnya bisa dinikmati dengan leluasa. untuk memasang listrik ini, setiap rumah dikenakan biaya sebesa Rp 3.500.000,-

 Belum selesai meikirkan sawitnya yang belum terangkut, Pak Sarpan masih harus bersusah payah menyusuri jalanan yang licin dan berlumpur menuju camp pagar listrik. Setiap harinya Pak sarpan bertugas untuk menyalakan dan mematikan pagar listrik. Pagar ini dibangun untuk menghalau gajah-gajah liar agar tak masuk dan merusak kebun sawit milik warga. Gajah-gajah masuk tersebut masuk karena semakin sempitnya habitat mereka. Perluasan hutan produksi dan kebun sawit membuat kehidupan gajah semakin terdesak. Kebun sawit menjadi makanan favorit bagi kawana gajah. Di Desa sekutur jaya sendiri, gajah sudah beberapa kali masuk dan merusak kebun sawit milik warga.  Salah satunya kebun milik Pak Sarpan.

Pagar listrik ini dibangun atas inisiasi lembaga swadaya masyarakat (LSM) Frankfurt Zoological Society (FZS) bekerjasama dengan masyarakat. Semakin terancamnya kehidupan gajah dan hewan liar lainnnya mendorong FZS untuk melestarikan hewan-hewan tersebut. Tingginya angka kematian gajah salah satunya disebabkan oleh konflik antara manusia dan Gajah. Masyarakat menganggap Gajah sebagai ancaman yang akan merusak kebun sawit mereka. tak sedikit kemudian gajah yang diracun ataupun diburu.Untuk mencegah bertambahnya angka kematian gajah, FZS kemudian membentuk tim Elephant Conflict Mitigation Unit (ECMU). tim ini bertugas untuk mealtih masyarakat dan melakukan kegiatan mitigasi. Salah satunya adalah dengan pembangunan pagar listrik.

Arus yang pagar listrik yang tidak mematikan, namun akan cukup membuat gajah terkejut dan tidak mendekati kebun penduduk. selain harus dinyalakan dan dimatikan agar listrik terus terisi. pagar listrik ini jugaharus bersih dari ranting-ranting dan semak agar arusnya tidak berkurang. jika samapi  berkurang maka gajah akan  dengan mudah melewati pagar dan tidak akan takut lagi. jadi pembangunan pagar listrik akan sia-sia. Disinilah kemudian tugas Pak Sarpan diabntu oleh rekannya pak Kuyut untuk terus menjaga dan merawat pagar listrik ini.

Sambil terus meratapai sawitnya yang belum bisa diangkut. Pak Sarpan harus tetap menyalakan pagar listrik. Ia pun kemudian menerobos hujan rintik-rintik dan jalan yang licin menuju camp pagar. Hidup di daerah jelajah gajah bererti harus siap hidup berdampingan dengan hewan liar.



Save Batanghari

Begadang semalaman dan seharian berjalan di hutan rupanya membuat akau tertidur semennjak sore. sekedar untuk mengisi perut pada malam hari pun rasanya malas. saat aku betul-merasalkan lapar aku baru bangun dan memasak kangkung sekedar mengganjal perut. Akupun kembali terlelap dan bagun dengan pegal-pegal di kaki dan punggung.

*******************

Pagi ini aku kembali bergabung dengan Aris, Reza, Ipen dan Anel. kemi berencana untuk kebamli menggiring Gajah yang kemarin belum berhasil. pada kaliini Alber tidak ikut bergabung. setelah mengisi perut kami bergegas menuju Desa jambu. rencana untuk berangkat pagi hari lagi-lagi kembali gagal.  sesampai disana rupanya warga sudah melayang ke seberang. kami sempat dibuat bingung untuk bagaimana caranya melayangi sungai. namun untuknya tak berapa lama rupanya ada salah seorang warga yang melihat kami dari seberang dan menjemput kami. satu persatu kami diantarkan si Bapak melayang ke seberang.

Tak ada jejak baru yang kami temukan, sepertinya si gajah sudah berpindah dari lokasi kemarin. menurut informasi dari warga yang tinggaldi pondok-pondok, gajah terlihat pergi mengarah ke hutan. kami pun kemudian menyusuri jalan setapak melacak jejak gajah. jejak-jejak kaki gajah baru kami temukan dan sepertinya memang mengarah ke dalam. setelah cukup lama kami berjalan dan merasa yakin bahwa gajah benar-benar sudah masuk kembali kedalam hutan, kami memutuskan untuk kembali ke Desa.

*******************
Pohon besar bertumbangan

Perjalan kali ini kembli membuatku miris, saya melihat banyak pohon-pohon besar berdiameter satu meter tumbang ditebang. warga yang ikut bersama kami menyebut wilayah ini adalah "rambahan". sepertinya memang akan dibuka ladang baru disekitar sini. wilayah ini banyak dihuni oleh simpai dan beberapajenis monyet. selain itu banyak juga ditemui berbagai jeis burung. Babi hutan juga nampakbanyak berkeliaran. berkurangnya pohon-pohon besar digantikan oleh ladang dan kebun akan mengancam kelansungan hidup beinatang - binatang tersebut. Selain itu wilayah ini jugaterletak di DAS sungai Batanghari. Dampak jelas yang akan terjadi adalah semakin tingginya tingkat erosi sungai. sungai akan semakin dangkal dan lebar. yang artinya juga akan  mengancam aset dan kehisupan masyarakat yang berdiam di sekitar sungai.

Selain permasalahan konversi lahan, masalah lain yang muncul adalah "dompeng", aktivitas penambangan emas yang dilakukan oleh masyarakat. Penambangan emas ini beresiko cukup tingi terhadap DAS Batanghari. selain pencemaranoleh merkury yang dibuang ke sungai juga  bibir sungai yang terus terkikis karena tersedot oleh mesin.

Hal lain yang saya jumpai di DAS Batanghari ini adalah kamar mandi terpanjang. berbagai aktivitas dari mulai mandi, Mencuci, hingga BAB dilakukan di tepian sungai Batanghari ini. Air sungai yang keruh karena erosi dan pencemaran lainnya akan berdampak badan kesehatan penduduk. Butuh lebih dari aksi nyata dari hulu sampai hilir untuk mengatasi  permasalahan ini. Batanghari yang melintas di tifga kabupaten, Riau, Jambi dan Sumatera barat merupakan nadi kehidupan bagi masyarakat. Save Batanghari!!!!Save our wild live!!!

Mengusir Gajah

Mataku baru benar - benar terpejam sekitar pukul  empat pagi. matahari belum sepenuhnya muncul namun aku sudah terbangun. kain sarung yang kugunakan untuk menutupi rupanya tidak bisa melindungiku dengan sempurna. entah berapa kali tubuhku menggigil. Aku lihat teman- teman yang lain masih tertidur.waktu yang ada kumanfaatkan untuk merebus air dan membersihkan pakaian serta sepatu di sungai. air sungai ini nampak keruh, selain itu mungkin juga banyak mengandung zat kimia dari pupuk dan obat-obatan lainnya. Seperti kita ketahui pohon sawit memang sangat rakus dengan pupuk dan obat. Tak lama Danil atau yang akrab disapa Anel bangun dan bergegas menyiapkan sarapan pagi. kulihat dia cukup rajin dan cekatan. alhasil nasi telor berhasil dia hidangkan. namun aku enggan untuk memakannya karena air yang dia gunakan berasal dari sungai.

Air galon yang kuminum sejak semalam berasa nampak aneh, entah darimana sumber airnya. jadiaku memutuskan untuk merebus airnya baru kuminum. aku harap ini bukan air sungai yang ditampung dalam galon. pagi ini perut hanya aku isi sengna segelas teh manis dan sepotong roti pemberian dari Mira. Aku harap nanti di tengah jalan aku bisa mengisi perutku di warung tempat kemarin kita makan atau entah dimana. Saat kami berkemas, ada dua orang petani yang mengunjungi pondok. yang pertama berbadan agak kurus, pagi-pagi dia berniat untuk memanen buah sawit karenan sebelumnya hujan turuh deras sehingga membuat kondisi jalan menjadi sulit untuk diakses mereka. untungnya pagi ini matahari bersinar cukup cerah. kesempatan ini banyak dimanfaatkan oleh petani untuk memanen atau mengambil tandan sawit yang sejak kemarin ditigeletakan di pinggir jalan. Petani yang kedua berbadan tambun dan kelihatan sudah sangat akrab sekali dengan Alber dan timnya, rupanya bapak ini adalah pemilik pondok tersebut. Beliau juga sempat bercerita mengusir gajah kala dahulu. menurut beliau dulu sempat ada sekitar 30 kawanan gajah yang masuk ke kebun sawit miliknya. Dia bersama tiga orang temannya melakukan penggiringan gajah. menurutnya, jika kita menggiring dengan baik-baik Gajah juga akan nurut"seperti menggiring kebau" ungkapnya.

Hari sudah menunjukan cukup siang, rencan kami meluncur ke Desa Jambu padaa pukul sembilan sudah molor hampir satu jam. pada siang hari jalan yang saya lalui semalam nampak jelas. juga tempat saya dan Mira terjatuh. saya agak was-was saat melintasinya. lebih baik melaju dengan pelan dan ekstra hati-hati daripada terjatuh untuk kedua kalinya.

Menyeberang S. Batanghari
Desa jambu ternyata berjarak cukup jauh. Kami kembali menuju ke arah Tebo, kembali melintasi sungai batanghari. kurang dari setengah jam kami sudah sampai di Desa Jambu. lokasi gajah yang masuk ke kebun beraada di seberang sungai batanghari. untuk menuju ke sana kamihasur menyeberang menggunakan perahukecil yang hanya muat untuk tiga orang. dalam bahasa jambi menyeberang sungai disebut melayang. melayang ke seberangmenggunakan perahu kecil cukup menantang juga he3x..jika ada kesempatan lagi aku ingin yang mendayung.

Sesampai diseberang kami dan sejumlah warga langsung berkordinasi di sebuah pondok yang terletak tak jauh dari pinggir sungai. Sekilas nampak lahan-lahan yang memang baru dibuka oleh peduduk untuk ditanami sawit. Jejak-jejak gajah asih nampak terlihat baru, terlihat juga beberapa pohon sawit yang rusak dimakan oleh gajah atau terinjak.gajah yang masuk hanya seekor. hal yang jarang dijumpaikarena biasanya gajah selalu bergerombol. bisa jadi ini Gajah ini terpisah dengan kawanannya. Kami membagi menjadi dua kelompok. Gajah rencananya akan kami giring sejauh 8 km ke atas. saya bersama kelompok meyusuri hutan dan semak mencari jejak gajah. Jejak Gajah nampak semakin jelas dan masih sangat baru. Kami juga menjumpai kotoran gajah yang juga masih namapak baru. namun rupanya dengan menyusuri jalan setapakjustru membuatkami terjebak. kami hanya berputar-putar saja disekitar lokasi. saya sendiri sudah merasa lelah, apalagi seharian ini perut saya belum terisi oleh makanan. sepertinya perlu disiapkan strategi lagi dalam menggiring gajah. beberapa kali Gajah kepergok oleh kami. saya sendiri tidak melihanya secara langsunghanya jejak-jejaknya saja.

Saya cukup beruntung, karena saat  ini sedang musim duku. sepanjang jalan banyak sekali pohon duku yang saya jumpai. sesekali saya memetik buah duku yang memang bisa dijangkau tangan. karena belum sepenuhnya matang rasanya memang masam. tapi lumayanlah untuk memberi makan cacing-cacing di perut.

sesekali kami juga harus menyebarangi rawa
Banyak pohon-pohon berukuran besar yang tumbang ditebang. Rupanya penduduk sedang menyiapkan untuk membuka lahan baru. aku sempat melontarkan pertanyaan pada salah seorang warga mengenai status kepemilikan lahan ini. "ini adalah tanah milik orang tua" tutur salah seoeran warga. mungkin karena secara ekonomi lahan yang mereka miliki tidak menguntungkan, jadi mereka memilih untuk mengganti tanamaan kayu dengan kebun sawit dan tanaman lainnya yang lebih menguntungkan. yang jelas aktivisas mereka ini juga menyumabng sejumalu kerusakan lingkungan yang ada. bisa jadi gajah yang masuk ke Kebun juga karena semakin sempitnya habitat mereka. kebun warga menjadi pilihan menarik untuk mencari makan.
*******************

Perlu ada tidakan tegas dan komitmen bersamabahwa kita harus berbagi sumberdaya dan ruang dengan hewan liar.agar tak ada pihak yang dirugikan. hidup di perlintasan Gajah artinya harus siap hidup berdampingan dengan gajah.
******************

Gajah yang rencananya kami giring menuju atas bukit, rupanya malah kembali ke titik awal tadi. saya sendiri sudah kepayahan jika penggiringan tetap dilanjutkan. tanpa startegi baru sepertinya juga tidak akan berhasil. akhirnya kamimemutuskan untuk kembalike Desa dan melanjutkan esok hari.