| Bekas hutan yang akan dialih funfsikan menjadi hutan karet |
Bersama dengan Reza, dan dua orang anggota tim ECMU lainnya, saya terus menyusuri jalan tanah yang ada di desa SP 5,masuk menuju wilayah hutan produksi PT Tebo Alam Lestari yang mendapat konsesi HPH untuk tanaman karet. Dari atas motor trail 125 cc yang saya tunggangi terdengar jelas raungan mesin chainsaw yang sedang mengiris batang pohon.
Nampak jelas pemandangan disamping kanan kiri bukit-bukit yang gundul. Hanya semak-semak dan batang kayu yang berserakan. Panas terik matahari tentunya sangat menyengat di sekitar sini. Terlihat juga pondok-pondok yang didirikan oleh masyarakat. Rencananya di wilayah ini akan dialih fungsikan menjadi tanaman karet. Oleh PT TAL masyarakat diperbolehkan untuk membuka lahan dan menanam karet di wilayah sini. Saya sendiri belum begitu jelas bagaimana mekanismenya, yang jelas hal ini bisa saja memicu adanya konflik sengketa lahan antara PT TAL dan masyarakat seperti yang sudah terjadi di banyak tempat.
Sepanjang jalan tanah yang nampak gersang dengan beberapa daerah yang berlumpur, banyak aku temui jejak kaki gajah. Kotoran-kotoran gajah terlihat pula tak jauh dari jejak-jejak tersebut. Menunjukan bahwa wilayah ini merupakan daerah jelajah gajah. Ironisnya hanya tinggal sedikit sekali hutan yang tersisa untuk kehidupan mereka. Tanah Sumatra yang subur dan banyak mengandung emas hitam membuat banyak pengusaha terpikat dengannya. Banyak pula masyarkat dari berbagai wilayah yang merantau kesini mencoba peruntungan mereka di tanah yang berjuluk swarnadwipaha yang berarti tanah yang kaya raya.
Nampak jelas pemandangan disamping kanan kiri bukit-bukit yang gundul. Hanya semak-semak dan batang kayu yang berserakan. Panas terik matahari tentunya sangat menyengat di sekitar sini. Terlihat juga pondok-pondok yang didirikan oleh masyarakat. Rencananya di wilayah ini akan dialih fungsikan menjadi tanaman karet. Oleh PT TAL masyarakat diperbolehkan untuk membuka lahan dan menanam karet di wilayah sini. Saya sendiri belum begitu jelas bagaimana mekanismenya, yang jelas hal ini bisa saja memicu adanya konflik sengketa lahan antara PT TAL dan masyarakat seperti yang sudah terjadi di banyak tempat.
Sepanjang jalan tanah yang nampak gersang dengan beberapa daerah yang berlumpur, banyak aku temui jejak kaki gajah. Kotoran-kotoran gajah terlihat pula tak jauh dari jejak-jejak tersebut. Menunjukan bahwa wilayah ini merupakan daerah jelajah gajah. Ironisnya hanya tinggal sedikit sekali hutan yang tersisa untuk kehidupan mereka. Tanah Sumatra yang subur dan banyak mengandung emas hitam membuat banyak pengusaha terpikat dengannya. Banyak pula masyarkat dari berbagai wilayah yang merantau kesini mencoba peruntungan mereka di tanah yang berjuluk swarnadwipaha yang berarti tanah yang kaya raya.
| Kotoran Gajah |
Gajah Sumatra merupakan binatang endemik yang ada di beberapa wilayah sumatra. Di Provinsi jambi sendiri Gajah Sumatra berada di sekitar kawasan Taman Nasionan Bukit Tiga Puluh (TNBT). Namun Gajah Sumatra ini tidak berada dalam kawasan tersebut. Gajah Sumatra tersebar di sekitar hutan penyangga yang masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Tebo. Wilayah TNBT yang berkontur terjal dan berbukit-bukit bukanlah wilayah yang ideal untuk gajah yang bertubuh besar. Sehingga sejak dahulu memang gajah banyak berkeliaran di luar taman nasional.
Ada beberapa Desa yang menjadi ruang jelajah gajah yaitu Desa pemayungan, Simambu, Sekalo, Suosuo, serta wilayah transmigrasi dari SP 1 hingga Sp 7. Karena berada di wilayah jelajah gajah maka desa-desa tersebut sering sekali mengalami konflik dengan gajah. Seperti di Desa Simambu dan Sp 2, Gajah seringkali masuk dan memakan kebun sawit atau karet milik masyarakat. Tak sedikit kerugian material yang disebabkan oleh gajah ini. satu kawanan gajah yang biasanya berjumalah sekitar sepuluh ekor sanggup menghabiskan 1 hektar kebun sawit dalam semalam.
Selain berada di wilayah jelajah gajah, bukan tanpa sebab juga gajah-gajah ini masuk ke kebun masyarakat. Pembukaan hutan oleh beberapa PT salah satunya PT TAL semakin mempersempit habitat gajah-gajah tersebut. Belum lagi ditambah dengan pembukaan ladang-ladang baru oleh masyarakat. Pemebrian HPH oleh pemerintah kepada sejumlah PT seharusnya mempertimbangkan aspek tersebut. Jejak-jejak gajah dan kotoran di sepanjang jalan setapak dalam hutan produksi yang saat ini sedang dialihfungsikan menunjukan bahwa ada banyak gajah berkeliaran di kawasan ini. Hilangnya habitat alami gajah-gajah tersebut berarti juga hilangnya sumber makanan mereka. Kebun kebun milik masyarakat akan menjadi sumber makanan baru bagi kawanan gajah dan masyarakat akan semakin menjadi korban dari hal ini. Ibarat buah simalakama, dibunuh salah, dibiarkan kebun habis dimakan.
Ada beberapa Desa yang menjadi ruang jelajah gajah yaitu Desa pemayungan, Simambu, Sekalo, Suosuo, serta wilayah transmigrasi dari SP 1 hingga Sp 7. Karena berada di wilayah jelajah gajah maka desa-desa tersebut sering sekali mengalami konflik dengan gajah. Seperti di Desa Simambu dan Sp 2, Gajah seringkali masuk dan memakan kebun sawit atau karet milik masyarakat. Tak sedikit kerugian material yang disebabkan oleh gajah ini. satu kawanan gajah yang biasanya berjumalah sekitar sepuluh ekor sanggup menghabiskan 1 hektar kebun sawit dalam semalam.
Selain berada di wilayah jelajah gajah, bukan tanpa sebab juga gajah-gajah ini masuk ke kebun masyarakat. Pembukaan hutan oleh beberapa PT salah satunya PT TAL semakin mempersempit habitat gajah-gajah tersebut. Belum lagi ditambah dengan pembukaan ladang-ladang baru oleh masyarakat. Pemebrian HPH oleh pemerintah kepada sejumlah PT seharusnya mempertimbangkan aspek tersebut. Jejak-jejak gajah dan kotoran di sepanjang jalan setapak dalam hutan produksi yang saat ini sedang dialihfungsikan menunjukan bahwa ada banyak gajah berkeliaran di kawasan ini. Hilangnya habitat alami gajah-gajah tersebut berarti juga hilangnya sumber makanan mereka. Kebun kebun milik masyarakat akan menjadi sumber makanan baru bagi kawanan gajah dan masyarakat akan semakin menjadi korban dari hal ini. Ibarat buah simalakama, dibunuh salah, dibiarkan kebun habis dimakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar