Selasa, 09 April 2013

Kekerasan, Militer dan Premanisme

"Jika engkau memaafkan atau membebaskan seorang diktator dan  koruptor, kenapa engkau penjarakan preman pasar dan pencuri ayam. (Bathi Moelyono: Korban Petrus)"


Pasukan Koppasus sedang berlatih; Sumber Google
Dalam sela perjalananku kembali ke Muara Tebo sebuah kota kecil terletak di tengah Provinsi Jambi, Seorang Bapakyang satu travel tiba melontarkan sebuah pertanyaan iseng. "Sebagai orang biasa bagaimana kira-kira  pendapatnya dengan kasus penembakan Kopassus terhadapa napai di Jogja itu?" Kira-kira seperti itulah pertanyaan seorang bapak berusia paruh baya yang duduk di samping saya. Belum sempat ada yang memberkan jawaban Bapak itu sudah menjawab sendiri pertannyaannya. "Saya setuju dengan apa yang dikaukan Angota Kopassus itu, yang ditembak itukan preman yang meresahkan masyarakat. Preman tersebut menembak salah serang anggota Kopasus. Rasa kesatuan Korplah yang memang mendorong mereka." Bapak tersebut memberikan jawabannya. Seorang Bapak yang duduk di bangku depan kemudian memberikan tanggapan. "Betul Pak saya juga setuju, Pemerintah saat ini payah,tidak tegas. Kalau seperti jaman dulu awal Pak Harto preman mana ada yang berani,bertato aja takut dan was-was kena garukan". Kedua orang ini kemudian berlanjut dengan pembicaraan panjang mengenai situasi politik pemerintahan indonesia dari zaman Presiden soekarno, Soeharto hingga Pemerintahan Presidn SBY saat ini.
Peristiwa penyerbuan sekelompok orang ke Lapas Cebongan Sleman yang berujung dengan tewasnya empat orang napi memang cukup menyita perhatian publik. Belakangan kemudian diketahui bahwa sekelompok orang tersebut adalah angggota Kopassus yang kemudian memang dibenarkan oleh Pangdam Hardiono Saroso mereka dalam pernyataanya di media. Diduga motif yang melatarbekangi adalah balas dendam atas tewasnya salah seorang kerabat mereka oleh preman di Hugos Cafe Jogja. Tanggapan pun kemudian bermunculan dari masyarkat, politikus, pengamat dan aktivis. Dukungan kepada Kopassus tidak hanya muncul dari obrolan dua orang yang saya jumpai di travel ini. Bermacam dukungan dari mulai bentuk spanduk, penggalangan koin hingga media sosial banyak bermunculan.
Jika kita lihat kebali kebelakang saat era pemerintahan Soeharto  pernah dberlakukan operasi Petrus (Penembakan Misterius) yang memang membuat jera para preman. Aksi premanisme bisa dibilang surut dan berhasil dihilangkan. Namun perlu kita sadari bersama, bahwa perkembangan premanisme tidak hanya sebatas tindakan kekerasan atau kejahatan oleh orang saja. Premanisme yang dilkukan oleh oknum berseragam dan berpangkat jauh berkembang seperti jamur. Bisnis pengamanan-pengamanan yang dilakuakn aparat berseragam hingga kasus korupsi juga merupakan aksi premanisme yang jauh menyengsarakan rakyat. Semoga mata kita tidak dibutakan oleh semua hal itu.  Saya sendiri tidak yakin bahwa tindakan penyerbuan lapas cebongan ini mmerupakan wujud aksi pemberantasan preman. Jika tidak ada rekan anggota Koppasus yang tewas oleh preman saya yakin hal ini pasti tidak akan terjadi. Jika memang Kopassus memang serius memberantas premanisme, banyak hal yang bisa dilakukan ketimbang melakukan penyerbuan ke lapas.
Saat kemandulan hukum bukan berarti senjata yang menjadi jawaban. Saya pikir tidak ada satu alasan pembenaran pun untuk menegaskan bahwa saat preman tidak bisa diatasi kemudian moncong senjata yang berbicara. 

Jumat, 05 April 2013

Aren Dalam Tantangan Zaman


 
Pak Nur Sedang Menderes Aren
Kabut tebal yang turun belum sepenuhnya hilang.  Daun dan rerumputan masih Nampak basah. Burung-burung juga nampaknya enggan berkicau di tengah udara yang cukup dingin itu.  Sinar matahari yang samar-samar muncul sepertinya belum cukup untuk memberikan kehangatan setelah semalam diguyur hujan deras. Pak Nur Cahyo (54) bersama dangan belasan penderes aren lainnya di Dusun Deles Desa Sirongge sudah bersiap siap untuk mengambil hasil sadapannya yang semenjak sore sudah dipasang di pohon aren miliknya. Dingin dan tebalnya kabut pagi itu tidak menyurutkan niat Pak Nur untuk menderes. Hasil deresannya tersebut nantinya akan diserahkan kepada istrinya untuk diproses menjadi gula aren.
Penderes adalah istilah yang diberikan kepada para penyadap pohon aren untuk kemudian diolah menjadi gula. Menderes sudah menjadi pekerjaan yang menghidupi mereka selama puluhan tahun. Tidak jelas siapa yang mengawali aktivitas ini, namun dari menderes inilah masyarakat telah bertahan hidup. Dan masyarakat menyebutnya ini sebagai “air gaib”.  Hampir selama lima belas tahun ini Pak Nur sudah menderes pohon aren. Setiap pagi – pagi buta ia selalu pergi ke kebun dan hutan untuk mengambil hasil deresannya. Kemudian menngantinya dengan pongkor atau tempat penampung  nira yang masih kosong untuk kembali diambil pada sore harinya. Jadi dalam sehari pohon aren dapat disadap selama dua kali. Tak banyak nira yang diperoleh oleh Pak Nur pada pagi ini. Pada musim-musim peralihan cuaca seperti ini memang produktivitas nira sedang menurun. Kualitas nira yang dihasilkan juga jelek. Sehingga sering juga gula yang dihasilkan gagal atau disebut sebagai “gula gemblung”.
Pada sekitar tahun 90-an masih banyak terdapat penderes aren. Pohon aren yang tumbuh pun masih sangant banyak. Hampir setiap rumah mempunyai pohon aren. Namun saat ini hanya tingggal beberapa puluh saja yang tersisa. Pohon arennya pun tinggal sedikit. Semakin menurunnya produktivitas pohon dan sangat minimnya regenerasi penderes baru menyebabkan aktivitas menderes aren semakin sedikit. Banyak masyarakat yang memilih untuk menjual pohon arennya karena banyak pihak yang mengincar pohon aren untuk diambil sari tepungnya atau yang disebut “gelang”. Satu pohon aren dewasa dijual 100 s/d 200 ribu rupiah. Selain itu masalah budidaya tanaman yang masih alami. Persebaran tanaman ini masih mengandalkan Luwak sebagai medianya. Sementara populasi hewan luwak ini juga semakin langka. Bahkan di beberapa desa seperti Desa Beji dan Getas, jumlah pohon aren hampir habis karena adanya alih fungi menjadi perkebunan teh melalui program PIR yang digalakan oleh Dinas perkebunana waktu itu.
Harga satu kilogram gula aren saat ini dipasar mencapai Rp 15.000. namun kadang belum samapi dijual ke pasar, gula aren sudah habis dibeli oleh para tetangga atau pesanan. Banyak orang yang memanfaatkan gula aren ini sebagai campuran jamu atau sekedar bumbu pemanis dapur. Namun banyak pihak juga terutama penampung-penampung di pasar yang memanfaatkan tingginya permintaan pasar. Semntara ketersediaan gula aren semakin sedikit. Sehingga banyak penampung yang mencampur gula aren dengan gula kelapa atau bahkan dicampur dengan terigu. Hal ini yang menyebabkan harga gula aren tidak kunjung merangkak naik. Karena minimnya kepercayaan pasar terhadap kualitas gula aren.
Mendekati tengah hari gula yang “diindel” (istilah untuk mengolah nira menjadi gula; merebus nira hingga mengental kemudian dicetak) hampir jadi. Tak banyak nira yang direbus karena memang jumlah yang didapat juga sedikit. Mungkin hanya menghasilkan 2 – 3 kg gula aren. Padahal biasanya Pak Nur Bisa memproduksi 5 – 6 kg bahkan bisa lebih di saat-saat tertentu. Gula yang dihasilkan juga jelek, berwarna hitam kusam. Gula yang baik berwarna coklat cerah. Kondisi nira seperti itu memang riskan. Untuk menghindari terjadinya gula gemblung Istri Pak Nur biasanya menambahkan semacam bubuk pengeras yang berbentuk seperti tepung terigu. Bubuk ini merupakan natrium bizulfit yang digunakan untuk mengeraskan gula dan mencegah nira menjadi asam. Pemakaian obat ini dalam takaran yang melebihi batas sangat membahayakan kesehatan. “kalau terus menerus menggunakan obat ini biasanya wajan menjadi keropos dan tipis” terang Pak Nur disela-sela obrolan santai sambil menikmati wajik gula aren yang disuguhkan. Wajik ini juga menjadi khas makanan masyarakat pandanarum dan Kalibening.
Sudah banyak pihak yang beberapa kali mengadakan kegiatan untuk mendorong peningkatan mutu kualitas gula aren. Diantaranya adalah diversifikasi produk menjadi gula semut. Diharapakan dengan divesifikasi produk ini maka kulaitas gula aren dapat ditingkatkan sehingga akan menaikan harga gula. LPPSLH  dengan pengalamannya dalam pengorganisasian gula kelapa melalui sertifikasi organik. Sertifikasi menjadi persyaratan utama untuk bisa menembus pasar luar negeri.
Dusun deles menjadi salah satu dari beberapa dusun saja yang masih mengakrabi aren sebagai pencaharian hidup. Dusun ini terletak jauh dari jalan utama. Jalan yang dikeraskan menjadi satu-satunya akses jalan menuju kesana. Pohon aren nampak terlihat banyak sepanjang mata memandang. Tak jarang jika kita berjalan disana pada sore atau pagi hari akan menemui banyak sosok  laki-laki yang sudah termakan usia sedang memikul pongkor tempat nira. Minimnya regenerasi dari pemuda-pemuda desa memang menyebabkan aktivitas menderes ini hanya dilakaukan oelh orang – orang tua. Sementara pemuda desa lebih suka merantau ke kota.
Bu Daryonah masih mencoba mengingat aktivitasnya dulu saat setiap pagi merebus nira dan mencataknya jadi gula aren. Bu Daryonah juga menjadi  salah satu kader dalam kegiatan pembuatan gula semut. Sambil menyeruput teh panas dalam gelasnya Bu Daryonah menceritakan bagaimana kesibukannya dulu membuat gula semut, mendapat banyak pesanan bahkan hingga diminta melatih tetangganaya yang ingin membuat gula semut. Namun semua itu kini tinggal cerita karena saat ini Suaminya berada di Jakarta bekerja. Pohon aren yang jadi miliknya sedang tidak mengeluarkan nira. Sementara Bu Daryonah saat ini sibuk mengelola kebun Cabai. Sepertinya menderes aren sedang mengahadapi tantangannya, atau hanya akan menjadi cerita untuk anak cucu bagi Pak Nur. (leo)
.


Be a traveler "This isn't about the destination but the journeys"


Tidak penting kemana tujuan kita, namun perjalanan itulah yang akan memberikan pengalaman menarik buat kita.  Perjalanan menuju tempat jauh dengan segala keterbatasan yang ada baik waktu dan uang sepertinya hanaya manjadi mimmpi saja bagai kebanyakan orang.  Kita hanya bisa mengagumi saja lewat foto-foto atau catatan perjalanan seseorang. Ada kalanya satu waktu kita mengambil  kesempatan untuk memulai perjalanan memnuju ke suatau tempat yang kita dambakan. Berusaha membuat setiap langkah yang kita lakukan berarti dan semenarik mungkin. Yang jelas Traveling bukan hanya milik mereka saja yang beruang banyak. Menjadi traveller adalah sebuah seni yang tentunya dibutuhkan kreativitas  dan keberanian tetunya. Ada beberapa prinsip  yang mungkin perlu kita terapkan bersama agar perjalanan ini menarik dan hemat tentunya :
  1. Tidak menggunakan biro wisata atau perjalanan
  2.  Naik transportasi kelas ekonomi
  3. Selalu siap untuk menginap dimana saja, Pom Bensin, Stasiun, Tenda Doome, Syukur ada yang punya kenalan yang bisa ditumpangi
  4. Jarak Kurang dari 5 km ditempuh dengan jalan kaki
  5. Tidak makan daging, yang penting perut kenyang
  6. Baju kering pakai (jangan bawa baju terlalu banyak)
  7. Jangan terlalu sering mengeluh, bakal sering telat makan, kepanasan, kadang kehujanan
  8. Sering-seringlah memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan di perjalanan dan jangan lupa untuk berbagi tempat duduk dan bersedia memberikan kursi kita untuk perempuan,anak-anak dan orang tua.
Bagi yang belum terbiasa agak terlihat menyiksa diri memang, namun  perlahan lahan pasti terbiasa dan akan menjadi keasyikan tersendiri.Selamat mencoba menjadi Traveller !!!

Seri Menggapai Atap Andalas : Kerinci, Atap Tertinggi Sumatra (Bag 3)



Sunrise terlihat dari shelter 3
Angin masih bertiup kencang, Terang cahaya bulan masih belum tergantikan sang surya. Hembusan angin yang menyeruak hingga masuk kedalam tenda menembus sleeping bag yang membungkus rapat tubuhku. Semalaman aku terjaga, rasa kantuk sepertinya sudah tersingkir jauh bersama tiupan angin. Dinginnya hembusan angin menggetarkan tubuh hingga tulang semmpat membuatku raguan untuk melanjutkan perjalanan sampai ke puncak. Untungnnya ada beberapa teman yang serta seorang pemandu yang sedang mmebawa seoarang turis asing perempuan yang juga hendak mencumbui atap tertinggi Sumatra ini. Aku sengaja menyisakan nasi tadi malam untuk pagi ini, dengan ditambah satu bungkus cornet sepertinya cukup untuk menjaga tubuhku tetap bertenaga. Beberapa potong roti, tali webbing dan jas hujan, serta kompor aku saipakan untuk perbekalan nanti.

Pukul empat pagi hari saya dan beberapa rombongan mulai menerobos gelap. Terang cahaya bintang dan sinar bulan masih nampak sayup sesekali hilang tertutup awan. Saya masih harus menuju shelter 3 dahulu sebelum memasuki jalur ke puncak yang sudah berupa bebatuan. Jalur yang ku lalui cukup terjal, seringkali juga saya harus melewati lorong-lorong yang sempit. untungnya ada banyak akar yang bisa menjadi pegangan dan tumpuan. Setelah menempuh sekitar setengh jam perjalanan akhirnya saya mencapai shelter 3. Tempat ini sangat terbuk, nampak ada beberapa teda yang didirikan disini. Dari kondisi tenda serta kain flysheet yang sudah tidak pada bentuknya sepertinya mereka pasti berjuang keras menghadapi tiupan angin.
Jalur menuju puncak Kerinci

Dari tempat ini puncak Kerinci terlihat jelas. Jalur untuk menggapai puncak berupa batuan dan pasir. Sebenarnya aku sudah tak asing lagi dengan jalur seperti  ini, hal yang biasa pada gunung-gunung berapi yang masih aktif. Saya dan beberapa rombongan lain terus menerobos hembusan angin yang  menggoyahkan kaki saya. Beberapa kali saya hampir terhempas keluar jalur semntara sebelah kanan kiri saya  berupa jurang yag curam. Jika saya tak sigap mungkin dasar jurang akan menjadi kuburan saya. Semakin naik keatas hembusan angin terasa semakin kuat, debu-debu pasir berterbangan menghantam mata. Sialnya saya tidak mengantisipasi hal seperti ini. jangankan untuk melangkah, membuka mata saja rasanya sulit sekali. Saya harus menunggu dala cerukan-cerukan berlindung dari angin, setelah cukup reda baru saya melangkahkan kaki saya. Cukup pelan memang namun ini jauh lebih baik daripada hanya diam menunggu.

Saya di puncak Kerinci
Akhirnya saya samapi juga di puncak tertinggi Pulau Sumatra ini. Sayangnya kabut tebal membatasi pandangan saya. Padaha jika cuaca cerah, kita bisa menyaksikan dananu gunnung 7 dan barisan pegunungan yang membentang di sisi barat. Agak sedikit mengecewakan memang namun bukan ini tujuan utama saya. Sebuah proses perjalanan, memanenjemen waktu dan persiapan mental menjadi pelajaran yang tak ternilaikan harganya. Saya tidak hanya sukses mendaki puncak gunung tertinggi tapi saya juga sukses mengelola diri saya atas waktu, kekhawatiran dan ketakutan. (leo) Melihat Kerinci, Atap Tertinggi Sumatra (Bag 2)

Minggu, 24 Maret 2013

Bersua Dalam Kearifan Masyarakat Talang Mamak, Royongan Menuai Padi

Aktivitas Menuai Padi Masyarakat Talang Mamak
Memanen sepertinya sudah menjadi hal yang biasa bagi kita. Namun lain bagi masyarakat Talang Mamak, salah satu suku yang hidup di pedalaman Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Tradisi memanen suku Talang Mamak telah menjadi tradisi rutin yang dilakukan secara turun temurun. Dalam tradisi ini, memanen padi dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat. Mereka memanen bersama-sama ladang miliknya secara bergantian dari ladang yang satu ke ladang yang lain. Alat yang digunakan untuk memanen adalah tuai. alat ini sangat sederhana, terbuat dari sebantang bambu kira-kira panjangnya sejengkal, kemudian bagian tengahnya disisipi lempengan seng dari kulit luar baterai yang dipasang secara horisontal. Tuai ini digunakan untuk memotong satu persatu tangkai padi. Proses memanen ini dilakukan oleh laki-laki dan perempuan baik tua maupun muda dengan  pembagian kerja yang hampir sama.

Hari itu (12/3) kebetulan sedang ada kegiatan menuai padi di ladang Pak Buchori. Rasa penasaran saya mengenai proses menuai padi ini kemudian membuat saya ingin melihat secara langsung  menuai padai tersebut. Pagi-pagi Saya dan  Mira kemudian menuju Dusun Simarantihan. Dusun yang masuk ke dalam Kawasan administratif Desa Suo-suo Kabupaten Tebo ini telah lama menjadi hunian tetap bagi masyarakat adat Talang Mamak. Masyarakat adat ini berasal dari Datai yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Pola hidup masyarakat yang berpindah-pindah menyebabkan mereka tersebar di beberapa wilayah. Selain di Simarantihan, Jambi bebrapa kelompok ada yang tinggal di Indragiri, Riau. Masyarakat adat talang-mamak yang tinggal di Simarantihan ini sebelumnya menempati wilayah Menggantal. Hingga kemudia ada Program Pemukiman Masyarakat Adat oleh pemerintah melalui dinas sosial yang kemudian menempatakn mereka di Simarantihan hingga sekarang. Pemerintah membangunkan rumah-rumah berukuran sedang untuk masig masing keluarga. Hingga saat ini Dusun Simarantihan telah dihuni oleh 40 Kepala Keluarga. Fasilitas yang ada disini sangat minim, tidak ada layanan kesehatan, Listrik dan telekomunikasi. Untungnya sudah ada sekolah dasar yang didirikan di sini, walaupun dengan tenaga pengajar yang sangat terbatas. Sebagian besar waktu masyarakat Talang Mamak ini dihabiskan di ladang. Mereka membangun pondok-pondok di ladang mereka dan tinggal disana bersama anak dan istrinya menunggui ladang tersebut. Jam pelajaran sekolah pun dimulai dari pukul 13.00 hinggga pukul 16.00 WIB. Selesai sekolah anak-anak juga kemudian kembali lagi ke pondok mereka dan kembali siang hari  esoknya. Pada masa panen padi seperti ini anak-anak ikut sibuk membantu di ladang, Jadi sekolah juga sering diliburkan pada masa-masa panen. 

Padi-padi yang telah dituai dimasukan kedalam Gending, semacam keranjang yang terbuat dari anyaman bambu. Bentuknya tidak terlalu besar, kira-kira seukuran bakul nasi. Setelah gending-gending terasa penuh kemudian dikumpulkan dan dimasukan kedalam selendang. Selendang ini berukuran cukup besar dengan bentuk tabung. Terbuat dari Kulit kayu meranti. Saat membawa gending ada bbebrapa aturan yang harus ditaati. Petani tidak boleh minum atau membuang air. selain itu juga tidak boleh memadatkan padi dengan cara diinjak dengan kaki. Cara menempatkan selendang tempat mmenampung padi ini juga harus dijemur dengan bagian atas menghadap ke arah matahari. Diperkirakan Penuaian padi di lahan Pak Buchori ini akan selesai dalam waktu 4 hari. Pak Buchori sendiri adalah salah satu pemangku adat Talang Mamak di Dusun Simarantihan ini.

Senja mulai berangsur tenggelam tergantikan malam. haya sebagian kecil masyarakat saja yang pulang menuju rumahnya. Sebagai besar tetap menghabiskan malam menunggui padi-padinya. Pondok-pondok yang dibangun memang disiapkan sebagai temapat tinggal kedua mereka. Malam di Dusun Simarantihan ternyata cukup ramai. walaupaun tidak ada aliran listrik, beberapa rumah sudah memiliki mesin diesel. Beberapa antena parabola juga nampak di halaman-halaman rumah. Di persimpangan masuk ke dusun ada sebuah warung yang dikelola oleh Pak Yanto dimana istrinya adalah satu-satunya guru yang mengajar si Simarantihan ini. Di warungnya yang sekaligus menjadi rumahnya terdapat miesin deisel serta  televisi parabola  yang selalau dinyalakan ketika sore hingga sekitar  tengah malam.  Tempat ini ramai pleh masyarakat yang menonoton TV atau sekedar mencari rokok atau kebutuhan lainnya. Hal ini mengingatkan waktu kkecil saya, dimana hanya ada beberapa televisi saja di kampaung. Besama dengan tetangga yang lain tiap malam saya selalu beramai-ramai menonton televisi yang waktu itu juga masih hanya berwarna hitam dan putih saja.
Saya Bersama Dengan Beberapa Perempuan Penuai Padi

Kehidupan Masyarakat Talang Mamak yang masih subsisten atau memanfaaatkan alam sebatas unuk pemenuhan kehidupan sehari-hari menjadi contoh harmonisasi yang cukup baik antara alam dan manusia. Tata cara memanen padi masyarakat ini bisa menjadi salah satu gambaran harmonisasi tersebut. Lokasi yang cukup jauh dan terpencil memang dapat menjaga masyarakat bertahan dalam kearifannya. Namun perlahan-lahan, dorongan masyarakat untuk bisa menikmati teknologi semakain besar. Jika tidak diimbangi dengan pemahaman kearifan lokal yang kuat maka bisa berdampak fatal terhadap kelestarian lingkungan. (leo)



Seri Menggapai Atap Andalas : Kerinci, Atap Tertinggi Sumatra (Bag 2)

Tugu Macan Maskot Desa Kersik Tuo
Gunung Kerinci masuk dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), yang melintang d sisi barat Pulau Sumatra dari padang, Jambi hingga Bengkulu. Kawasan ini juga menjadi benteng terakhir bagi satwa-satwa liar diantaranya Harimau Sumatera. Saat ini binatang endemik Sumatera ini status keberadaannya cukup memprihatinkan sementara kerabat terdekatnya Harimau Jawa dan Harimau Bali sudah dinyatakan punah. Di persimpangan hendak masuk jalur pendakian ada tugu macan yang juga menjadi juga menjadi ikon bagi wilayah ini. Wilayah Kerinci juga terkenal dengan teh kayu aro. Perkebunan teh ini terhampar luas di sekitar Gunung Kerinci. Teh kayu aro memiliki cita rasa yang khas dan sudah memiliki pasar ekspor yang bagus.

Setelah mengurus perijinan atau R10 bersama dengan sekelompok pendaki dari Bandung, saya langsung menuju Pintu Rimba. Gerbang yang menjadi perbatasan antara Taman nasional dan ladang masyarakat. Dengan Mengikuti Jalan Aspal, dari Pos Perijinan menuju  Pintu rimba ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit perjalanan. Suasana perkebunan nampak terlihat jelas dalam perjalanan menuju Pintu Rimba ini. Seringkali saya berjumpa dengan petani yang akan berangkan ke ladang. Banyak juga yang sudah berada di ladang, ada yang sedang menanam, menyeprot atau sekedar membersihkan tanaman dari rumput liar Dari dialog yang mereka ucapakan menunjukan bahwa mereka merupakan Suku Jawa. Wilayah Kerinci bagian tengah memang sebagain besar dihuni oleh orang jawa. Hal ini membuat seolah saya merasa di tanah sendiri jadinya.
Pondok Di Pos 1

Memasuki Pintu Rimba, nampak kontras sekali dengan sebelumnya. Saya langsung disambut dengan lebatnya hutan kerinci. Keteduah dan kesejukannya memberi saya tenaga baru setelah sebelumnya dipanggang dalam terik matahari. Untungnya sudah beberapa hari ini tidak turun hujan sehingga jalanan berlumpur  di sepanjang setapak hanya menyisakan jejak-jejak kaki yang nampak mulai mengeras. Dari Pintu Rimba menuju Pos 1 kemuian menuju pos 2 dan 3 jaraknya tidak begitu jauh. Jarak antar  posnya membutuhkan waktu sekitar 20 menit perjalanan. Jalur yang dilewati pada pos ini relatif landai dengan tutupan hutan yang cukup lebat. Di sebelah kiri jalur ini ada mata air, namun seringkali kering saat musim kemarau. Pada pos ini terdapat bangunan permanen yang dapat digunakan untuk beristirahat, namun para pendaki tidak dianjurkan untuk menginap di daerah ini dikarenakan harimau sumatera seringkali melintas di daerah ini. Bunyi-bunyi beruk, simpai dan berbagai jenis hewan terdengar jelas. Menunjukn ekosistem di sekitar sini masih bagus. Tempat ini sepertinya memang akan menjadi benteng terakhir bagi satwa liar.

Menuju ke Shelter 1, medan mulai berat, jalanan yang terjal dan akar-akar yang melintang menjadi awal tantangan menapaki setapak kerinci ini. Beberapa kali saya harus menggunakan kedua tangan saya sebagai tumpuan untuk bisa melewati jalan yang memang cukup terjal. Mendaki gunung sendirian selain dibutuhkan mental juga dibutuhkan fisik yang tangguh, karena peralatan dan perlengkapan tentunya akan dibawa sendiri. Saya sendiri mulai merasa kepayahan, selain beban yang cukup berat perjalanan jauh semalaman tadisepertinya sudah cukup menguras tenaga saya. Untuk menuju shelter 1 ini saya membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Sesampai di shelter ini saya langsung membongkar peralatan masak, saya perlu mengisi ulang tenaga. Tanpa banyak membuang waktu, sepring mie cornet sudah terhidang dan siap disantap.
Suasana di Shelter 1

Perlahan-lahan tenaga saya mulai pulih kembali. Barang-barang dan perlengkapan memasak  sudah kemablai terpacking. Saya pun sudah siap melanjutkan perjalanan kembali. Target saya kalai ini adalah shelter 2. Medan menuju shelter 2 bertambah berat, semakin terjal dan banyakakar-akar yang melintang. Tangan saya selalau aktif dan sering menjadi tumpuan untukbisa mengangkat tubuh saya melewati jalan yang curam. Tutupan hutan yang rapat sedikit demisedikit mulai terbuka. Mulai nampak jenis pohon-pohon perdu dan semak. Kabut tipis dan angin terasa sampai menusuk tulang. Menurut keterangan penduduk di bawah, sat musim terang seperti ini angin memang bertiup kencang. tak ingin, mengambil resiko, saya kemudian mengenakan rain coat. Berharap semoga bisa untuk melindungi kulit-kulit tubuh dari terpaan angin. setelah berjalan selam kekitar 3 4 jam perjalan saya akhirnya tiba di shelter 2. Tiupan angin semakin terasa kencang. untungnya di tempat ini cukup terlindung oleh tanaman-tanam perdu dan tebing. Nampakbekas bangunan pos yang hanya tertingal rangka saja. tiupan angin besar sepertinya sudah mengkoyak-koyak atap dan dinding bangunan tersebut. Sya pun kemudian mendirikan tendan di balik tebing bersama sekelompok pendaki yang lain.Angin terus bertiup kencang dan udara semakin dingin. Perangkat GPS di saku saya menunjuk pada 3050 mdpl. Gigi-gigiku mulai saling beradu, dan tubuh mulai menggigil. (Bersambung) Melihat Kerinci, atap Tertinggi Sumatra (Bag 1)

Rabu, 06 Maret 2013

Seri Menggapai Atap Andalas : Kerinci, Atap Tertinggi Sumatra (Bag 1)

Gunung Kerinci Dilihat Dari KersikTuo
Sesampai di Kota Jambi (26/2), waktu yang ada kugunakan dengan sebaik-baiknya untuk berbelanja sejumlah perbekalan. Saya harus benar-benar memperhitungkan barang yag akan saya beli agar tidak terlalau berat namun masih safety. Ini akan menjadi pendakian solo ku yang pertama. menuju gunung tertinggi di pulau Sumatera sekaligus gunung tertinggi kedua di Indonesia. Perjalanan selama 5 jam dari Tebo menuju Jambi cukup membuat tubuhku lelah, ditambah udara panas di siang itu. Saya harus banyak minum dan cukup makan bergizi agar tubuh tetap fit.

Dari kota Jambi, untuk menuju kerinci saya menggunakan travel Safa Marva. sebetulnya ada banyak  travel menuju kerinci seperti Ayu Travel, Duta Kerinci, dan lainnya. Saya tak mau ambil pusing dengan banyaknya pilihan tersebut. Safa marwa menjadi piihan saya dan berharap travel ini bisa memberikan pelayanan yang nyaman mengngat perjalanan yang saya tempuh akan cukup lama, sekitar 10-11 jam perjalanan.

(27/2) menjelang petang travel sudah menjemput, mobil Elf bercat gelap berkapasitas 8 penumpang. Saya pun segera bergegas dan berharap tidak ada barang yang saya tertinggal. Saya duduk di kursi paling belakang, tidak terlalau nyaman memang karena guncangannya pasti akan lebih terasa. Setelah menjemput beberepa penumpang, mobil yang saya tunggangi langsung meluncur menuju kot Sungai penuh, Kerinci. Semua bangku terisi, saya harus rela berdesakan tempat duduk. harapan untuk bisa tidur selama perjalanan sepertinya lenyap sudah saat menyadari bahwa  AC mobil juga tidak menyala. Udara panas Sumatra membuat saya bermandikan keringat. Setelah sekitar 2 jam berjalan, mobil yang saya naiki berhenti di sebuah rumah makan. Perut yang memang sejak sore tadi belum saya isi juga sudah merongrong sejak tadi. Saya pun langsung memesan satu porsi nasi padang. Setelah perut terisi kantuk pun tidak bisa saya cegah lagi. Saya akhirnya bisa tertidur walalupun sesekali terbangun saat mobil terguncang cukup keras.

Memasuki wilayah Batang Merangin mendekati Kerinci, saya terbangun. Guncangan keras dalam mobil cukup teras semakin sering. memandang luar jendela, jalan memang tampak buruk dan bergelombang. Sepanjang jalan juga terlihat gelap, sepertinya di wilayah ini belum terpasang listrik. Sesekali saya menjumpai bekas-bekas longsoran- dari lereng tebing di tepi jalan. Pada musim penghujan sepertinya di sekitar daerah ini sering terjadi longsor dan tentunya pasti akan mengahambat arus lalu lintas. Tak lama saya pun tiba di sungai penuh. Hari masih cukup gelap saat itu, jam ditangan saya baru menunjuk pukul lima pagi. Pak Supir kemudian menunjukan mobil angkutan yang akan mengantar ke Desa Kayu Aro, Kersik Tuo. Tempat ini akan jadi titik start pendakian saya.

Mobil angkutan menurunkan saya di simpang macan. Untuk melanjutkan perjalanan saya bisa berjalan kaki atau naik ojek menuju tempat perijinan yang lokasinya berjarak seitar 2 km. Beberapa lama menunggu, sepertinya tak ada ojek yang melintas. Ibu penjual makanan di seberang jalan menyarankan saya untuk singgah di basecamp dulu atau landung ke atas dengan menumpang mobil yang mengangkut sayuran. Saya pun kemudian mencegat seorang pengendara sepeda motor untuk minta tumpangan. Untungnya Bapak ini tidak keberatan mengatar saya hingga pos perijinan.
Bersama Rombongan Dari Bandung (Saya Paling Kiri)
Saya tidak benar-benar sendiri mendaki Gunung Kerinci ini, di pos perizinan sudah ada enam pendaki dari Bandung yang sedang menunggu petugas di pos ini. kami langsung saling berkealan dan mengakrabkan diri. Tiga orang dari mereka adalah mahasiswa kedokteran di Unpad. Akan jadi pengalaman yang menarik tentunya mendaki bersama para calon dokter, pastinya akan ada pelajaran menarik yang bisa saya dapat  ilmu medis di lapangan dari para calon dokter ini.(Bersambung)